Mengikhlaskan Kehilangan
Senyuman
tipis hanya untuk menutupi rasa kehilangan yang mendalam. Ada hati yang tak
ikhlas melepaskan apa yang tak ingin dilepas. Ada hati yang tersayat saat harus
menerima takdir yang tak mampu ditolak oleh semua manusia "Kematian".
Inilah saat-saat terakhir aku mampu melihat raganya untuk terakhir kalinya.
Semua orang yang datang memeluk erat tubuh yang tak lagi utuh. Berbela sungkawa
atas wafatnya separuh hati yang telah lama menemani selama satu dasawarsa.
Suamiku tercinta telah berpulang ke Rahmatullah. Tangisku pecah saat raga yang
selama ini menjadi sandaran tertutup rapat oleh papan dan tertimbun tanah.
Seperti mimpi buruk yang pernah ku alami selama hidup. Tapi ini bukanlah mimpi,
melainkan takdir. Seperti apa yang dikatakan oleh suamiku bahwa kita harus siap
menerima takdir Allah.
"Ummi,
kita tidak pernah tahu bahwa kita bisa memiliki kesempatan untuk beramal shalih
sampai hari esok. Maka, kita harus mempersiapkan bekal kita untuk pulang ke
kampung halaman kita sesungguhnya. Ummi, biya, jika suatu saat malaikat Izrail
datang menjemput kita, maka diantara kita yang ditinggalkan harus benar-benar
siap mengikhlaskan kepergian salah satu diantara kita. Jangan ada nestapa yang
berlebihan. Karena sesungguhnya kita nanti sejatinya tidak pernah berpisah.
Perpisahan kita sesungguhnya adalah jika salah satu dari kita berada di surga
dan yang satu lagi berada di neraka. Dan biya tidak pernah ingin kita seperti
itu. Biya ingin kita tinggal bersama selamanya di Jannah. Suatu tempat yang
abadi dalam hidup kita. Dunia ini hanya tempat persinggahan dan mengumpulkan
perbekalan. Maka perbanyaklah amal shalih dan berbuat baik kepada sesama. Jika
raga kita terpisah di dunia, maka InsyaAllah kita bisa bertemu dan berjalan
bersama menuju JannahNya. Ummi, biya harus berusaha ikhlas atas segala
ketetapan Allah. Karena kita tidak dapat menolak takdir Allah. Ummi jangan
sedih jika nanti biya harus berpulang terlebih dahulu daripada ummi. Ummi masih
punya Allah yang akan selalu menjaga ummi dan anak kita kelak. Begitupula dengan
biya. Biya pun berusaha akan menerima takdir Allah jikalau ummi yang harus
terlebih dahulu berpulang."
Begitulah
hal yang selalu diucapkan oleh biya hampir setiap kami pergi takziyah di rumah
kerabat. Karena memang, biya selalu meyakinkanku bahwa kami selamanya akan
tetap bersama. Tapi apa yang selalu diucapkannya dulu, kini aku benar-benar
harus mengalaminya. Bagaimana aku mampu menjalani hari tanpa sosok biya?
Sedangkan aku butuh kehadirannya dalam melewati masa-masa kehamilanku dan
melahirkan nanti. Seorang amanah yang telah lama kami idam-idamkan akan segera
hadir di keluarga kecil kami. Satu dasawarsa adalah waktu yang cukup lama
menanti sang buah hati. Allah yang mematikan dan menghidupkan. Di dalam rahimku
terdapat calon mujahid yang akan menjadi penerus biya. Seperti apa yang
dikatakan biya bahwa kami akan menjadikan anak kami seorang yang bermanfaat
untuk umat serta berharap memiliki anak penghafal Al Qur’an. InsyaAllah aku
akan mewujudkan itu semua biya. Aku akan mendidik dan menjaga anak kita dengan
sebaik-baiknya.
Menjadi
janda diusia yang dibilang masih muda bukanlah cita-cita, melainkan sudah
menjadi ketetapan Allah. Sejak kepergian biya terasa masih berat menjalani
kehidupan. Terlebih aku harus membesarkan mujahid kami yang telah lahir bernama
Abu Bakar. Sejak dulu, jika kami memiliki anak laki-laki, kami selalu
menginginkan memberinya nama Abu Bakar. Supaya kelak akan menjadi sosok seperti
sahabat Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam serta Khulafaur Rosyidin
"Abu Bakar ash Shiddiq". Inilah aku Fatimah, sosok wanita yang
berusaha ikhlas dengan segala takdir Allah yang berharap dapat bertemu kembali
dengan Yusuf suami tercinta di Jannah. Di usia 35 tahun sudah menjadi janda
dengan satu mujahid kecil bernama Abu Bakar. Dan kini mujahid kami telah tumbuh
dewasa menjadi calon mujahid sesungguhnya. Dia telah berusia 16 tahun dan sejak
usia 10 tahun sudah menimba ilmu di pondok pesantren di kota kami.
___
"Ummi....
Ummi...." Abu berlari memanggilku yang sedang berada di dapur untuk
memasak.
"Ada
apa anak sholihnya ummi? Kok sampai lari tergesa-gesa seperti itu?" Ku
usap lembut ubun-ubunnya.
"Ini
ummi, Abu lupa mau menyampaikan ke ummi kalau Abu pekan depan akan wisuda
tahfidz 30 juz. Nanti ummi datang loh ya, ini ada undangannya." Abu
memberikan sebuah undangan kehadiran wisuda tahfidznya.
"Maa
Syaa Allah. Tabarakallah. Anak ummi hebat dan sholih. Kalau biya tahu kalau
Abu sudah menyelesaikan hafalan 30 juz mutqin[1]
pasti biya bangga." Ucapku bangga. Hatiku mengharu biru mendengar kabar
bahwa anakku akan diwisuda atas pencapaiannya menyelesaikan hafalan Qur'annya
30 juz. Apa yang kami impikan bersama salah satunya telah terwujud. Diusia yang
masih cukup muda, Abu telah menjadi seorang hafidz Qur'an.
"Andaikan
biya bersamaku, mendampingi dan mendidik Abu Bakar bersama." Bulir bening
membendung di sudut kelopak mataku yang seakan akan tumpah tatkala membuka
album poto kami. Betapa rindunya diri ini akan kehadiran sosok biya. Aku sangat
merindukannya berada di sisiku. Rasanya sangat lelah berjuang sendiri
membesarkan anak kita. Tapi Abu anak sholih seperti abinya. Anak yang tangguh
dan cerdas. Saat ia melihat umminya menangis, dia selalu berusaha untuk membuat
umminya tersenyum kembali. Bahkan gaya bicaranya mirip sekali dengan mendiang
abinya.
"Ummi
jangan sedih. Kita nanti akan berkumpul lagi dengan Abi di Jannah." Abu
Bakar membuyarkan lamunanku.
Meskipun
telah 16 tahun lamanya biya meninggalkan kami, aku tetap setia pada satu hati.
Tidak ada keinginan untuk menikah lagi meskipun banyak kumbang yang datang
menghampiri. Aku hanya ingin sehidup sesurga bersama biya. Bagaimana pun, biya
lah yang selama ini menemaniku dikala suka maupun duka. Terlalu banyak kenangan
dan hal indah yang tak akan pernah ku lupakan bersama biya. Terlebih ku
teringat bagaimana perjuangan kami di awal menikah. Sungguh, banyak sekali
kesulitan yang kami alami bersama. Tetapi, tak pernah membuat kami saling
bertengkar justru semakin menumbuhkan cinta diantara kami. Aku teringat sebuah hadits Rasulullah
shalallahu'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani bahwasanya :
“Wanita
manapun yang ditinggal mati suaminya, kemudian si wanita menikah lagi, maka dia
menjadi istri bagi suaminya yang terakhir.” [HR. Ath-Thabarani, lihat
Ash-Shahihah 3/275]
______
"Ummi,
besok aku balik lagi ke pondok. Pekan depan ummi datang ya bersama kakek
nenek." Ucap Abu
"Iya
nak. InsyaAllah ummi akan datang." Aku memeluk erat tubuh puteraku yang
semakin sudah semakin tinggi dan berperawakan gagah seperti abinya.
"Ummi,
gimana sih ceritanya ummi bisa bertemu sama abi? Ummi sayang banget ya sama
abi?" Tatapan wajah polos dan penuh tanya.
"Emm,
jadi dulu ummi bertemu dengan abi karena sudah kehendak Allah. Awalnya ummi dan
abi dikenalkan oleh seorang ustadz. Kemudian pertemuan pertama di rumah nenek
(ibunya ummi). Dan saat pertemuan pertama itu, rupanya abi kakak kelas ummi
ketika SMP. Ummi kelas 1 SMP dan abi kelas 3 SMP. Sempat beberapa kali terlibat
acara yang sama dengan abi waktu SMP dulu. Kemudian bertemu lagi setelah 7
tahun melalui perantara seorang ustadz. Sejak pertemuan pertama itu, ummi dan
abi memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Dua bulan setelah
menikah ummi hamil anak pertama, tapi Allah mengambilnya kembali saat usia
kandungan ummi 5 bulan. Sejak saat itu ummi dan abi belum diberikan amanah lagi
hingga 10 tahun lamanya. Dan pada akhirnya ummi dan abi diberikan kepercayaan
lagi oleh Allah untuk memiliki buah hati, yaitu kamu. Saat usiamu 7 bulan di
dalam kandungan, abi telah berpulang menghadap ilahi." Tetes bulir bening
mengalir dari sudut kelopak mataku.
"Ummi...."
Abu mengusap air mataku.
"Ummi
tak apa nak. Ummi hanya ingat saat abi pergi meninggalkan kita untuk selamanya
di dunia. Rasanya seperti mimpi. Saat itu abi pulang dari mengaji, tiba di
rumah abi meminta ummi membuatkan teh hangat dan memijat punggung abi seperti
biasanya. Kemudian abi bercerita banyak hal, mulai dari masa-masa SMA abi
sampai abi kuliah. Ternyata abimu itu dulu banyak digemari perempuan. Tapi abi
tidak pernah merespon mereka. Abi aktif dalam kegiatan dakwah kampus di tempat
abi kuliah. Sejak lulus kuliah abi diamanahi untuk mengajar di sebuah pondok
pesantren. Meskipun abimu bukan lulusan pondok pesantren, tapi ilmu agama yang
abi miliki sangat luar biasa. Abi mampu membimbing dan mengajarkan ummi tentang
banyak hal, terutama tentang agama. Abi selalu berpesan bahwa Allah
sebaik-baiknya tempat kita kembali. Dan abi selalu mengingatkan ummi jika suatu
saat dari kita berpulang terlebih dahulu, InsyaAllah kita akan berkumpul
bersama kembali di Jannah. Hingga saat terakhir sebelum abi berpulang, abi
mencium punggung tangan ummi dan mengelus perut ummi yang membuncit sembari
berkata "Jazakillah Khoiron Katsiron ummi telah menjadi istri yang baik
dan shalihah. Semoga kelak anak kita menjadi jundi Allah". Kemudian abi
tersenyum menatap hangat wajah ummi dan abi tertidur. Ummi masih mendengar
dengkuran suaranya abi tatkala abi kelelahan. Setelah itu dengkurannya melemah
dan tidak lagi terdengar. Ummi usap wajah teduhnya Abi dan ummi pandangi dengan
penuh syukur, betapa Allah Maha Pemberi. Telah memberikan sebuah nahkoda kapal
yang layak untuk membawa kita menuju Surganya Allah. Ummi selalu berjanji akan
setia menemani abi dikala suka maupun duka. Dan selalu berjanji bahwa cinta
akan terus bersemi hingga maut memisahkan dan mempersatukan lagi di Surganya
Allah. Abi selalu mengingatkan bahwa cinta ummi dan abi akan terus bersemi
jikalau ummi dan abi taat kepada Allah. Karena cinta ummi dan abi akan memudar
jikalau ummi dan abi jauh dari Allah. Sejatinya Allah lah yang menumbuhkan
cinta di hati ummi dan abi. Saat ummi ingin membangunkan abi untuk pindah
tidur, badan abi sudah dingin semua. Saat itulah abi pergi berpulang ke
Rahmatullah." Abu bakar turut terhanyut dalam perasaan bersamaku.
"Ummi,
Abu berjanji akan membahagiakan ummi. Abu akan menjadi anak yang berbakti dan
anak yang sholih untuk ummi dan abi. Doa anak yang sholih kan menjadi amal
jariyah untuk abi kan, mi?"
"Maa
Syaa Allah. Iya sayang. Doa anak yang sholih akan menjadi amal jariyah
untuk abi. Seperti sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika
seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara
(yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”
(HR. Muslim no. 1631).
"Ummi,
terimakasih ya sudah merawat Abu sampai Abu bisa menjadi seperti saat
ini."
"Sama-sama
Abu. Ummi berterimakasih juga karena Abu telah menjadi anak yang baik untuk
ummi dan abi. Serta telah mewujudkan impian ummi dan abi memiliki seorang anak
penghafal Al Qur'an. Kelak, kita berkumpul bersama lagi di Jannah ya, nak.
Bersama ummi, abi, dan juga abu. Abu jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu
di masjid ya dan teruslah beramal shalih." Aku memeluk dan mencium
ubun-ubun Abu, seraya berdoa "Rabbi habli minash shalihin. Artinya: “Wahai
Rabbku, berilah aku keturunan yang shalih.”
_____
Hari
ini adalah hari wisudanya putra semata wayangku, Abu Bakar. Di usia 16 tahun ia
telah menyelesaikan hafalan Qur'an 30 juz mutqin. Aku datang ke pondok
pesantren bersama dengan ayahku dan ibunya mas Yusuf. Tampak semua wali santri
sudah memenuhi kursi tamu undangan wisuda tahfidz seluruh santri putra. Aku,
ayah, dan ibu mendapatkan tempat di bagian depan. Tampak di deretan kursi
sebelah baris wali santri, para santri duduk rapi mengenakan jubah putih yang
panjangnya di atas mata kaki, beserta kopiah berwarna hitam. Rangkaian acara
demi acara dimulai. Hingga pada puncak acara penyerahan penghargaan kepada
santri berprestasi. Perasaanku sangat bahagia tatkala seorang ustadz memanggil
nama Abu Bakar sebagai salah satu santri berprestasi serta santri teladan. Abu
Bakar dengan gagahnya berjalan dan menaiki podium.
"Alhamdulillah.
Jazakumullahu Khoiron Katsiron[2],
terimakasih kepada seluruh ustadz yang telah membimbing saya selama saya berada
di pondok pesantren ini. Tanpa bimbingan dan arahan dari ustadz saya tak akan
mampu belajar dengan baik di pondok ini. Tak lupa, ku ucapkan Jazakillah
Khoiron Katsiron ummi ku tersayang. Ummi sosok yang luar biasa untuk Abu Bakar.
Ummi telah berjuang membesarkan dan mendidik Abu Bakar menjadi anak yang
pandai. Tanpa doa dan dukungan dari ummi, Abu Bakar tentu tak akan mampu
menyelesaikan hafalan Qur'an 30 juz. Berkat didikan ummi selama di rumah, Abu
Bakar dapat membaca setiap huruf hijaiyah. Meskipun ummi membesarkan Abu Bakar
seorang diri tanpa adanya abi, tapi ummi tetap hebat. Ummi mampu melewati
setiap ujian yang telah Allah berikan kepada keluarga kita. Kini, mimpi ummi
dan abi telah terwujud. Abu Bakar mampu menjadi penghafal Al-Qur'an. Kelak Abu
Bakar akan menyerahkan mahkota terindah untuk ummi dan abi di akhirat. Abu
Bakar sayang ummi dan abi. Semoga kelak kita dapat berkumpul bersama di
Jannah." Aku Bakar berpidato dengan lantang di hadapan semua ustadz,
santri, berserta wali santri yang hadir. Dia berdiri gagah layaknya seorang
pemimpin yang sedang berpidato. Aku tak mampu menahan tangis tatkala Abu Bakar
menghujaniku dengan tiap kata yang indah. Abu Bakar telah menjadi sosok
laki-laki dewasa yang bijaksana dan gagah seperti abinya.
Kemudian,
barisan santri berjajar rapi di depan podium. Satu persatu santri maju menerima
penghargaan dari pihak pondok pesantren. Di sebelah podium terdapat santri grup
nasyid acapella mengiri rangkaian acara penerimaan penghargaan. Setelah semua
santri diberi penghargaan, mereka semua berbaris rapi menghadap ke arah wali
santri. Mereka turut mengikuti syair yang dibawakan oleh grup nasyid acapella.
**
Ku
impikan sepasang mahkota
Ku
berikan diakhirat kelak
Sebagai
pertanda bahwa kau sangat ku cinta
Aku
cinta engkau karena Allah
Ku
cinta ummi, ku cinta abi
Ku
harap doamu selalu dalam hati
Ku
cinta ummi, ku cinta abi
Berharap
bersama di surga Nya nanti.
**
Abu
Bakar melangkah mendekatiku, memberikan sebuah bunga mawar dan memberikan
sebuah mahkota kecil ala putri kerajaan berwarna silver. Ia menatap mataku,
tersenyum lembut, kemudian mencium punggung tanganku. Seraya berkata
"Ummi, terimakasih. Maaf jika Abu Bakar pernah berbuat salah sama ummi.
Abu sayang ummi. Doakan Abu bisa menjaga hafalan Abu, ummi."
___
Ya
Allah, terimakasih atas segala nikmat dan karuniaMu. Engkau berikan anugerah
terindah yang pernah aku miliki. Seorang putra penghafal Al Qur'an dan Sholih.
Karena Abu Bakar lah aku mampu menjalani hidup dengan baik selepas kepergian
biya. Darinya aku belajar mengikhlaskan kepergian biya dan menerima segala
ketetapanMu ya Allah. Aku selalu memohon, persatukanlah kami di JannahMu.
Wafatkan aku dalam keadaan husnul khatimah.
“Melepaskan
apa yang tidak ingin dilepaskan awalnya sungguh sangat sulit, tapi jika kita
percaya akan takdir Allah maka disitulah kita mampu mengikhlaskan.”
Oleh
Amma
Nisa
Komentar
Posting Komentar