Abjad Aksara Lampung
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Abjad Aksara Lampung
1.
Sejarah Abjad Aksara Lampung
Bila masyarakat Jawa punya aksara
Hanacaraka, ternyata Lampung juga punya aksara khusus untuk bahasa mereka.
Bahkan, dalam sejarah nenek moyang orang Lampung termasuk yang memahami
pentingnya aksara bagi kehidupan bermasyarakat.
Nenek moyang orang Lampung merupakan
salah satu dari sedikit suku yang sejak awal memiliki aksara sebagai simbol visual yang tertera pada kertas maupun
media lainnya, seperti batu, kayu, kain untuk mengekspresikan unsur-unsur ke
dalam suatu bahasa.
Menurut sejarahnya, aksara Lampung
atau biasa disebut Had Lampung berasal dari perkembangan aksara Devanagari yang
lengkapnya dinamakan Dewdatt Deva Nagari atau aksara Palawa dari India Selatan.
Aksara ini berbentuk suku kata seperti halnya aksara Jawa ca-ra-ka atau bahasa
Arab alif-ba-ta.
Aksara Lampung diperkirakan masuk ke
daerah Sumatera Selatan pada era Kerajaan Sriwijaya (700-1.000 Masehi). Aksara
ini memiliki banyak persamaan dengan aksara-aksara di luar Lampung, tetapi
bukan berarti yang satu meniru yang lain, melainkan aksara-aksara tersebut
memang bersaudara, sama-sama diturunkan dari aksara India.
Karena ada pembeda bentuk dan
digunakan oleh sebagian orang di daerah pedalaman Lampung, maka disebut aksara
Lampung atau dalam bahasa daerah Lampung disebut kelabai surat Lampung, yang
berarti ibu surat Lampung.
Aksara Lampung mulai jarang
digunakan setelah Islam masuk. Menurut budayawan yang juga tokoh adat Lampung
Zulkarnain Zubairi, sejak Islam masuk ke Lampung setelah runtuhnya Kerajaan
Sriwijaya, aksara Lampung banyak digunakan untuk menuliskan mantra-mantra dan
kelabai yang bertentangan dengan Islam yang tidak memercayai mantra-mantra.
Karena itu masyarakat diminta tidak
lagi menggunakan aksara yang dinilai syirik itu, lalu berkembanglah peradaban
baru dengan aksara Melayu atau Jawi.[1]
2.
Pengertian Abjad Aksara Lampung
Aksara Lampung atau had Lampung adalah
bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan.
Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti
dalam Huruf Arab, dengan menggunakan tanda-tanda fathah pada baris atas dan
tanda-tanda kasrah pada baris bawah, tetapi tidak menggunakan tanda dammah pada
baris depan, melainkan menggunakan tanda di belakang, di mana masing-masing
tanda mempunyai nama tersendiri.[2]
Had Lampung dipengaruhi dua unsur
yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan
dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung
terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga
terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah
KaGaNga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20
buah[3]
Aksara lampung telah mengalami
perkembangan atau perubahan. Sebelumnya Had Lampung kuno jauh lebih kompleks,
sehingga dilakukan penyempurnaan sampai yang dikenal sekarang. Huruf atau Had
Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang adalah hasil dari penyempurnaan
tersebut.
Aksara atau Had Lampung memiliki dua
kategori aksara, yakni; aksara lama dan aksara baru. Antar aksara Lampung yang sekarang
masih berlaku dengan aksara-aksara lama Lampung, terdapat dalam tulisan-tulisan
piagam lama yang terbuat dari kulit kayu atau tertulis di atas tanduk, buku
bambu atau kertas terdapat perbedaan. Contohnya adalah kitab yang terdapat di
bekas Keratuan Darah Putih bertahun 1270 H, yang ditulis dalam aksara Lampung
Lama dan Arab Melayu, dengan memakan bahasa jawa Banten. Sementara aksara
Lampung yang baru adalah aksara yang sekarang masih dipakai di kalangan anggota
masyarakat Lampung di daerah pedalam, di kampung-kampung, dan terutama di
kalangan orang tua.[4]
3.
Jenis-jenis Abjad Aksara Lampung
Aksara Lampung terdiri dari huruf
induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing,
angka, dan tanda baca.
a.
Huruf
Induk
Huruf
induk berjumlah 20 buah. Bentuk, nama, dan urutan huruf induk dikemukakan pada gambar
di bawah ini

b.
Anak
Huruf
Anak huruf aksara lampung ada 12, diantaranya:

Nama
masing-masing anak huruf itu adalah sebagai berikut:
1)
Anak
huruf yang terletak diatas huruf
a)
Ulan
:
dan 
Ulan
adalah anak huruf Kaganga berbentuk setengah lingkaran kecil yang terletak
diatas huruf. Ulan terdiri atas dua macam: ulan yang menghadap ke atas melambangkan bunyi [i], sedangkan ulan yang
menghadap ke bawah melambangkan bunyi
[e].
b)
Bicek
: 
Bicek
adalah huruf Kaganga berbentuk garis tegak yang terletak diatas huruf. Bicek
melambangkan bunyi [e].
c)
Tekelubang : 
Tekelubang
adalah anak huruf Kaganga berbentuk garis mendatar (seperti tanda hubung dalam
ejaan bahasa Indonesia) yang terletak diatas huruf. Tekelubang melambangkan
bunyi [ng].
d)
Rejunjung : 
Rejenjung
adalah anak huruf Kaganga berbentuk yang
terletak diatas huruf. Rejenjung melambangkan bunyi [r].
e)
Datas
: 
Datas
adalah anak huruf Kaganga berbentuk yang
terletak diatas huruf. Datas melambangkan bunyi [n].
2)
Anak
huruf yang terletak dibawah huruf
a)
Bitan :
dan 
Bitan
adalah anak huruf Kaganga yang terletak dibawah huruf. Bitan terdiri atas dua
macam. Bitan yang berupa garis pendek mendatar – melambangkan bunyi [u] dan
bitan yang berupa garis tegak melambangkan bunyi [o].
b)
Tekelungau : 
Tekelungau
adalah anak huruf Kaganga berbentuk setengah lingkaran kecil yang terletak
dibawah huruf. Tekelungau melambangkan
bunyi [au].
3)
Anak
huruf yang terletak di kanan huruf
a)
Tekelingai : 
Tekelingai
adalah anak huruf Kaganga berbentuk garis tegak “|” yang terletak di kanan
huruf. Tekelingai melambangkan bunyi [ai].
b)
Keleniah
: 
Keleniah
adalah anak huruf Kaganga berbentuk seperti huruf ha, tetapi kecil . Keleniah
melambangkan bunyi [h].
c)
Nengen
: 
Nengen
adalah anak huruf Kaganga berbentuk garis miring / yang terletak di kanan
huruf. Nengngen melambangkan huruf yang berada disebelah kiri nengngen menjadi
huruf mati. Akan tetapi, untuk melambangkan bunyi [ng], [r], [n], [y], [h],
atau [w], nengngen / tidak digunakan. Bunyi-bunyi itu
dilambangkan dengan menggunakan anak huruf Kaganga berikut ini.

Untuk
memperjelas keterangan diatas, perhatikanlah contoh penulisan yang salah dan
yang benar dibawah ini.
4.
Kegunaan Abjad Aksara Lampung
Sebagai respon positif dari
masyarakat dan pemerintahan Lampung, aksara masyarakat pedalaman ini dibakukan
dan diajarkan pada anak-anak di sekolah. Kalangan remaja pun tidak mau
ketinggalan, aksara Lampung baru ini dibuat berupa software yang bisa
diaplikasikan pada komputer, sehingga memungkinkan untuk berkreasi desain pada
kaos, kriya, sofenir, dan sarana pergaulan lainnya dengan aksara-aksara nenek
moyang ini.[6]
Pada masa silam, gadis-gadis asli
Lampung memiliki kemampuan memikat lawan jenisnya. Memang (mantra-mantra)
pengasih ini ditorehkan dalam Aksara Lampung kaganga di atas media kulit kayu.
Aksara Lampung juga digunakan untuk menulis surat, hukum, surat resmi untuk
mengesahkan hak kepemilikan tanah tradisional, mantra, sihir, guna-guna,cara
sesajian, petuah-petuah, syarat menjadi pemimpin, obat-obatan, hingga syair
mistik Islam.
Ada pula syair percintaan, yang
dikenal sebagai bandung atau hiwang. Media penulisan selain kulit kayu, juga
menggunakan bilah bambu,daun lontar, dalung (kepingan logam), kulit hewan,
tanduk kerbau, dan batu. Syair percintaan yang berbentuk dialog ditulis pada
keping atau lembar bambu disebut gelumpai diikat jadi satu dengan tali melalui
lubang di ujung satu serta diberi nomor berdasarkan urutan abjad. Ada pula yang
menorehkannya pada tabung bambu dan kulit kayu berlipat.
Karya-karya ilmiah tentang bahasa dan
aksara Lampung semuanya memakai “ra” untuk menuliskan huruf atau fonem ke-16
aksara Lampung. Gelar (adok) dan nama tempat harus dituliskan dengan ejaan ra,
meski dibaca mendekati bunyi kha/gha, misalnya Pangiran Raja Purba, Batin
Sempurna Jaya, Radin Surya Marga, Minak Perbasa, Kimas Putera, Marga Pertiwi.
Penulisan “radu rua rani mak ratong” merupakan ejaan baku, sedangkan penulisan
“khadu khua khani mak khatong” tidaklah baku.
Sementara itu, penelitian ilmiah
tentang bahasa dan aksara Lampung dipelopori oleh Prof. Dr. Herman Neubronner
van der Tuuk melalui artikel “Een Vergelijkende Woordenlijst van Lampongsche
Tongvallen” dalam jurnal ilmiah Tijdschrift Bataviaasch Genootschap (TBG),
volume 17, 1869, hal. 569-575, serta artikel “Het Lampongsch en Zijne
Tongvallen”, dalam TBG, volume 18, 1872, hal. 118-156, kemudian diikuti oleh
penelitian Prof. Dr. Charles Adrian van Ophuijsen melalui artikel “Lampongsche
Dwerghertverhalen” dalam jurnal Bijdragen Koninklijk Instituut (BKI), volume
46, 1896, hal. 109-142. Juga Dr. Oscar Louis Helfrich pada 1891 menerbitkan
kamus Lampongsch-Hollandsche Woordenlijst. Lalu ada tesis Ph.D. dari Dale
Franklin Walker pada Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang berjudul A
Grammar of the Lampung Language (1973).
Menurut Prof. C.A. van Ophuijsen,
bahasa Lampung tergolong bahasa tua dalam rumpun Melayu-Austronesia, sebab
masih banyak melestarikan kosakata Austronesia purba, seperti: apui, bah,
balak, bingi, buok, heni, hirung, hulu, ina, ipon, iwa, luh, pedom, pira, pitu,
telu, tuha, tutung, siwa, walu, dsb. Prof. H.N. van der Tuuk meneliti
kekerabatan bahasa Lampung dengan bahasa-bahasa Nusantara lainnya. Bahasa
Lampung dan bahasa Sunda memiliki kata awi (bambu), bahasa Lampung dan bahasa
Sumbawa memiliki kata punti (pisang), bahasa Lampung dan bahasa Batak memiliki
kata bulung (daun). Hal ini membuktikan bahwa bahasa-bahasa Nusantara memang
satu rumpun, yaitu rumpun Austronesia yang meliputi kawasan dari Madagaskar
sampai pulau-pulau di Pasifik.
Saat ini, Penggunaan Aksara Lampung
tidak seumum penggunaan Huruf Latin. Ulun Lampung sendiri lebih banyak
menggunakan Huruf Latin untuk menulis Bahasa Lampung. Oleh kaum muda,
Penggunaan Aksara Lampung biasanya dipakai untuk menulis hal yang bersifat
pribadi seperti buku harian dan surat cinta. Selain itu, tidak sedikit yang
menulis Bahasa Indonesia dengan menggunakan Aksara Lampung.
Penggunaan Aksara Lampung bisa kita
lihat pada penulisan nama jalan di Provinsi Lampung. Selain itu, penggunaan
Aksara Lampung juga bisa kita lihat pada logo Provinsi, Kabupaten, dan Kota di
Provinsi Lampung.[7]
[1] http://www.apakabardunia.com/2013/09/yuk-mengenal-abjad-bahasa-lampung-dan.html, 20.20 WIB, 19
September 2015
[2]
http://bimbelpolri.blogspot.co.id/2014/01/aksara-lampung.html
[3]
https://hendryferdinan.wordpress.com/2011/03/05/abjad-aksara-lampung/
[4] http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/920/aksara-lampung.
20.20 WIB, 19 September 2015.
[5]
http://www.kotametro.com/pendidikan/2015/05/06/aksara-lampung-dan-tanda-bacanya-huruf-induk-dan-anak-huruf.html
[7]
https://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Lampung

ini baru cinta lampung
BalasHapus