Pengertian Kurikulum



1.      Pengertian Kurikulum Secara Etimologi
Webster’s Third New International Distionery menyebutkan Curriculum berasal dari kata curere. Dalam bahasa latin currerre berarti berlari cepat (pada perlombaan lari distadion), tergesa-gesa, menjalani. Dalam hal ini memiliki artian bahwa curriculae berarti jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti bahwa siswa telah menempuh kurikulum yang berupa rencana pembelajaran sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara suatu tempat ketempat lainnya dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.[1]

2.      Konsep Kurikulum Berdasarkan Para Ahli
Pada pertengahan abad ke  XX pengertian kurikulum berkembang dan dipakai dalam dunia pendidikan yang berarti “sejumlah pelajaran yang harus ditempuh oleh  siswa untuk kenaikan kelas/ijazah”. Menurut “satuan pelajaran” SPG yang dibuat oleh Dep. P & K, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang berarti jarak yang ditempuh yang semula dipakai dalam lapangan olah raga.[2]
Istilah kurikulum muncul untuk pertama kalinya di dalam kamus Webster tahun 1856. Pada tahun itu penggunaaan kurikulum dipakai dalam bidang olahraga, yakni suatu alat yang membawa seseorang dari “start”sampai “finish”. Baru pada tahun 1955 istilah kurikulum dipakai dalam bidang pendidikan dengan arti sejumlah mata pelajaran pada perguruan tinggi. Di dalam kamus tersebut (Webster), kurikulum diartikan dalam dua macam, yaitu:
a)      Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari murid di sekolah atau perguruan tinggi untuk memperoleh ijazah tertentu.
b)      Sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan atau suatu departemen.
Pengertian di atas membawa implikasi bahwa proses pendidikan di sekolah yang termasuk kurikulum hanya mata pelajaran yang ditawarkan untuk dipelajari murid. Kegiatan belajar selain mempelajari mata pelajaran tidak termasuk ke dalam kurikulum. Padahal sebagaimana diketahui bahwa proses pendidikan di sekolah mencakup berbagai kegiatan yang diarahkan kepada pembentukan pribadi murid, baik jasmaniah maupun rohaniah. Mempelajari sejumlah mata pelajaran disekolah hanya salah satu segi dari pembentukan kepribadian itu.[3]
Dalam arti luas kurikulum ialah yang meliputi seluruh program dan kehidupan dalam sekolah. Kurikulum sekolah dapat dipandang sebagai bagian dari kehidupan. Oleh karena itu, kurikulum berpengaruh sekali kepada suatu keberhasilan pendidikan. Kurikulum itu tidak statis, tetapi dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya. [4]
Dalam Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan lahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. [5]
Saylor J. Gallen& William N Alexander dalam bukunya “curriculum planning” mengemukakan pengertian kurikulum sebagai keseluruhan usaha sekolah untuk mempengaruhi belajar baik berlangsung dikelas,  dihalaman maupun diluar sekolah.
Soedijarto berpendapat bahwa kurikulum merupakan segala pengalaman dan kegiatan belajar  yang direncanakan dan diorganisis untuk diatasi oleh para siswa/mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan bagi suatu lembaga pendidikan.[6]
Kurikulum merupakan seperangkat rencana yang memuat tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan dimaksud mencakup tujuan pendidikan nasional dan kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. [7]
Kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar-mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya. Ada sejumlah ahli teori kurikulum yang berpendapat bahwa kurikulum bukan hanya meliputi semua kegiatan yang direncanakan melainkan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah. Jadi selain kegiatan kurikuler yang formal juga kegiatan yang tidak formal. Kurikulum formal terdiri dari a) Tujuan pelajaran, umum dan spesifik, b) Bahan pelajaran yang tersusun sistematis, c) Strategi belajar-mengajar serta kegiatan-kegiatannya, dan d) Sistem evaluasi untuk mengetahui hingga mana tujuan tercapai. Kurikulum tak formal terdiri aras kegiatan-kegiatan yang juga direncanakan akan tetapi tidak berkaitan langsung dengan pelajaran akademis dan kelas tertentu. Kurikulum ini dipandang sebagai pelengkap kurikulum formal. Tang termasuk kurikulum tak formal ini anatara lain : pertunjukan sandiwara, pertandingan antarkelas atau antarsekolah, perkumpulan berbagai hobby, pramuka, dan lain-lain.[8]
Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. Berdasarkan pengertian ini dapat diartikan bahwa kurikulum sebagai isi pelajaran.
Pendapat-pendapat yang muncul selanjutnya telah beralih dari menekankan pada isi menjadi lebih memberikan tekanan pada pengalaman belajar. Menurut Caswel dan Campbell dalam buku mereka yang terkenal Curriculum Development (1935), kurikulum … to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers. Perubahan penekanan pada pengalaman ini lebih jelas ditegaskan oleh Ronald C. Doll (1974, hlm.22) “The commonly accepted definition of the curriculum has changed from content of courses to all the experiences which are offered to learners under the auspices or direction of the school.”
Definisi Doll tidak hanya menunjukkan adanya perubahan penekanan dari isi kepada proses, tetapi juga menunjukkan adanya perubahan lingkup, dari konsep yang sangat sempit kepada yang lebih luas. Apa yang dimaksud dengan pengalaman siswa yang diarahkan atau menjadi tanggung jawab sekolah mengandung makna yang cukup luas. Pengalaman tersebut dapat berlangsung di sekolah, di rumah ataupun di masyarakat, bersama guru atau tanpa guru, berkenaan langsung dengan pelajaran ataupun tidak. Definisi tersebut juga mencakup berbagai upaya guru dalam mendorong terjadinya pengalaman tersebut serta berbagai fasilitas yang mendukungnya.
Menurut Mac Donald (1965), kurikulum merupakan suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar-mengajar. Kurikulum juga sering dibedakan antara kurikulum sebagai rencana dengan kurikulum yang fungsional. Sedangkan menurut Beauchamp (1968), kurikulum adalah suatu rencana pendidikan atau pengajaran. Pelakasanaan rencana itu sudah masuk pengajaran. Selanjutnya, Zais menjelaskan bahwa kebaikan suatu kurikulum tidak dapat dinilai dari dokumen tertulisnya saja, melainkan harus dinilai dalam proses pelaksanaan fungsinya di dalam kelas. Kurikulum bukan hanya merupakan rencana tertulis bagi pengajaran, melainkan sesuatu yang fungsional yang beroperasi dalam kelas, yang memberi pedoman dan mengatur lingkungan dan kegiatan yang berlangsung di dalam kelas. Rencana tertulis merupakan dokumen kurikulum, sedangkan kurikulum yang dioperasikan di kelas merupakan kurikulum fungsional. [9]
Berdasarkan pandangan Mac Donald dapat disimpulkan bahwa meskipun kurikulum sebagai rencana dengan kurikulum fungsional dibedakan, akan tetapi keduanya saling berhubungan. Dimana  kurikulum bukan hanya memberikan pedoman atau suatu petunjuk dalam kegiatan pembelajaran, akan tetapi kurikulum juga dapat memberikan arahan dalam mewujudkan suatu pembelajaran yang efektif atau kurikulum dapat dikatakan baik apabila fungsi dari kurikulum dapat terlaksana sebagaimana mestinya.
Saylor, Alexander, dan Lewis (1974) kurikulum merupakan segala upaya sekolah untuk mempengaruhi siswa agar dapat belajar, baik dalam ruangan kelas, maupun di luar sekolah. Sementara itu, Harold B. Alberty (1965) memandang kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah.[10]
Adapun beberapa tafsiran lainnya dikemukakan berikut ini:
a.       Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran
Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Mata ajaran dipandang sebagai pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lampau, yang telah disusun secara sistematis dan logis. Misalnya, berkat pengalaman dan penemuan-penemuan masa lampau, maka diadakan pemilihan dan selanjutnya disusun secara sistematis, artinya menurut uruan tertentu; dan logis artinya dapat diterima oleh akal dan pikiran. Mata ajaran tersebut mengisi materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa, sehingga memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan yang berguna baginya. Semakin banyak pengalaman dan penemuan-penemuan, maka semakin banyak pula mata ajaran yang harus disusun dalam kurikulum dan harus dipelajari oleh siswa di sekolah.
b.      Kurikulum sebagai rencana pembelajaran
Kurikulum adalah suat program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program itu para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata ajaran saja, melainkan meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, alat pelajaran, perlengkapan, perpustakaan, gambar-gambar, halaman sekolah dan lain-lain; yang pada gilirannya menyediakan kemungkinan belajar secara efektif. Semua kesempatan dan kegiatan yang akan dan perlu dilakukan siswa direncanakan dalam suatu kurikulum
c.       Kurikulum sebagai pengalaman belajar
Kurikulum merupakan serangkaian pengalaman belajar. pengertian ini menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan kurikulum tidak terbatas dalam ruang kelas saja, melainkan mencakup juga kegiatan-kegiatan di luar kelas. Semua kegiatan yang memberikan pengalaman belajar/ pendidikan bagi siswa pada hakikatnya adalah kurikulum.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelanggaraan kegiatan belajar mengajar (Bab 1, Ps. 1, Butir 9). Isi kurikulum merupakan susunan dan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan, dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional (Ps. 39).
Pandangan lama atau sering juga disebut pandagan tradisional, merumuskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh murid untuk memperoleh ijazah. Pengertian tadi mempunyai implikasi sebagai berikut:
a.       Kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran. Mata pelajaran sendiri pada hakikatnya adalah pengalaman nenek moyang dimasa lampau. Berbagai pengalaman tersebut dipilih, dianalisis, serta disusun secara sistematis dan logis sehingga muncul mata pelajaran seperti sejarah, ilmu bumi, ilmu hayat, dan sebagainya.
b.      Mata pelajaran adalah sejumlah informasi atau pengetahuan, sehingga penyampaian mata pelajaran pada siswa akan membentuk mereka menjadi manusia yang mempunyai kecerdasan berpikir.
c.       Mata pelajaran mengambarkan kebudayaan masa lampau. Adapun pengajaran berarti penyampaian kebudayaan kepada generasi muda.
d.      Tujuan mempelajari mata pelajaran adalah untuk memperoleh ijazah. ijazah diposisikan sebagai tujuan, sehingga menguasai mata pelajaran berarti telah mencapai tujuan belajar.
e.       Adanya aspek keharusan bagi siswa untuk mempelajari mata pelajaran yang sama. Akibatnya, faktor minat dan kebutuhan siswa tidak dipertimbangkan dalam penyususnan kurikulum.
f.       System penyampaian yang digunakan oleh guru adalah system penuangan  (imposisi). Akibatnya, dalam kegiatan belajar gurulah yang lebih banyak bersifat aktif, sedangkan siswa hanya bersifat pasif belaka.
Sebagai perbandingan, ada baiknya kita kutip pula pendapat lain, seperti yang dikemukakan Romine (1954). Pandangan ini digolongkan sebagai pendapat yang baru (modern), yang dirumuskan sebagai berikut:
“curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences which pupils have under direction of the school, whether in the classroom or not”.
Implikasi perumusan diatas adalah sebagai berikut:
a.       Tafsiran tentang kurikulum bersifat luas, karena kurikulum bukan hanya terdiri atas mata pelajaran (courses), tetapi meliputi semua kegiatan dan pengalaman yang menjadi tanggung jawab sekolah.
b.      Sesuai dengan pandangan ini, berbagai kegiatan di luar kelas (ekstrakulikuler) sudah tercakup dalam pengertian kurikulum. Oleh karena itu, tidak ada pemisah antara intra dan ekstrakurikulum.
c.       Pelaksanaan kurikulum tidak hanya dibatasi pada keempat dinding kelas saja, melainkan dilaksanakan baik di dalam maupun di luar kelas, sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
d.      System penyampaian yang dipergunakan oleh guru disesuaikan dengan kegiatan atau pengalaman yang akan disampaikan. Oleh karena itu, guru harus mengadakan berbagai kegiatan belajar-mengajar yang bervariasi, sesuai dengan kondisi siswa.
e.       Tujuan pendidikan bukanlah untuk menyampaikan mata pelajaran (courses) atau bidang pengetahuan yang tersusun (subject), melainkan pembentukan pribadi anak dan belajar cara hidup di dalam masyarakat.[11]
Dari beberapa definisi yang telah dipaparkan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan suatu pedoman atau pondasi dalam kegiatan pendidikan, dimana di dalam pedoman tersebut terdapat isi, bahan, serta rencana pengajaran yang akan dilaksanakan di dalam dunia pendidikan. Sehingga, dengan adanya kurikulum suatu kegiatan pengajaran akan terlaksana dengan baik dan tujuan pendidikan akan tercapai. Kurikulum yang baik, adalah kurikulum yang mampu beroperasi dan member pedoman saat pelaksanaan kegiatan pembalajaran berlangsung.
Dalam kehidupan sehari-hari kurikulum diibaratkan sebagai otak dalam tubuh manusia. Dimana otak berfungsi untuk mengendalikan kerja organ dalam gerakan dan fungsi tubuh. Otak juga bisa disebut sebagai sumber kehidupan, karena segala aktivitas kehidupan terjadi melalui mekanisme dan diatur oleh otak. Otak harus menjalankan ribuan aktivitas dalam waktu bersamaan. Begitupula dengan kurikulum, kurikulum juga merupakan bagian dari kehidupan dalam sekolah, yang berpengaruh terhadap suatu keberhasilan pendidikan.


[1] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2011), hal.16
[2] Hendyat soetopo & Wasty Soemanto, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta:Bumi Aksara, 1982),  hal 12
[3] Ibrahim dan Benny Karyadi,  Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum, ( Jakarta: Universitas Terbuka,  1993), hal.3
[4] Cece Wijaya, dkk, Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran, (Bandung: Remaja Karya, 1988), hal.30
[5] Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 92
[6] Ibid
[7] Sudarwan Danim dan Khairil, Profesi Kependidikan, (Bandung: Alfabeta, 2011), hal. 215
[8] Nasution, Kurikulum dan Pengajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hal.5
[9] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 5
[10] Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hal.3
[11] Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2009), hal.5

Komentar

Postingan populer dari blog ini

biodata anak smash

Abjad Aksara Lampung

introduction and descriptive text