Perkembangan Kognitif Anak
A.
Perkembangan Kognitif
Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal). Teori kognitif lebih menekankan
bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang
dimiliki oleh orang lain.
Berbeda
dengan teori psikoanalitis yang menekankan pada pikiran – pikiran tidak sadar
anak – anak, pada teori kognitif ini menekankan pada pikiran sadar mereka. Teori kognitif didasarkan pada
pandangan bahwa kemampuan kognitif merupakan sesuatu yang mendasar dan yang
membimbing tingkah laku anak. Dengan demikian maka anak dipandang sebagai individu
yang secara aktif membangun sendiri pengetahuan mereka tentang dunia. Dalam
perkembangan kognitif didominasi oleh dua teori, yaitu teori kognitif piaget
dan teori pemrosesan informasi.
Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan
anak untuk mengeksplorasi lingkungan karena bertambah besarna koordinasi dan
pengendalian motorik, maka dunia kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif,
bebas, dan imajinatif.[1]
Perkembangan kognitif manusia merupakan proses
psikologis yang di dalamnya melibatkan proses memperoleh, menyusun, dan
menggunakan pengetahuan, serta kegiatan mental seperti berpikir, menimbang,
mengamati, mengingat, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan memecahkan
persoalan yang berlangsung melalui interaksi dengan lingkungan. [2]
Perkembangan kognitif merupakan perkembangan pikiran. Pikiran anak
adalah bagian dari otaknya yang bertanggung jawab terhadap bahasa, pembentukan mental, pemahaman,
penyelesaian masalah, pandangan, penilaian, pemahaman sebab akibat, serta
ingatan.
Perkembangan
kognitif pada setiap anak berbeda-beda sesuai dengan tingkatan usianya. Perkembangan kognitif merupakan perubahan
yang terjadi pada tingkat kemampuan berpikir anak atau peningkatan kemampuan
berpikir anak. Peningkatan yang terjadi pada pola pikir anak dapat dipengaruhi
oleh lingkungan sekitar anak. Lingkungan sekitar dapat membantu anak untuk
mengembangkan pemikirannya. Karena lingkungan
merupakan tempat anak untuk belajar mengenal dan memahami sesuatu yang baru.
Saat anak berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan sekitar, anak dapat
mendapatkan sesuatu hal yang belum pernah ia temukan dan itu merupakan suatu
pengalaman bagi mereka. Dengan adanya pengalaman yang ia dapatkan akan hal yang
baru tersebut, ia dapat memiliki asumsi dan kesan tersendiri akan hal yang ia
rasakan. Interaksi yang dilakukan oleh seorang anak terhadap orang-orang di
lingkungan sekitar dapat mengembangkan pengetahuan si anak. Hal ini sesuai
dengan teori Vygotsky yang mengatakan bahwa pembelajaran mendahului perkembangan.
Pembelajaran melibatkan perolehan tanda-tanda melalui pengajaran dan informasi
dari orang lain di
lingkungan sekitar. Perkembangan
melibatkan internalisasi anak terhadap tanda-tanda ini sehingga sanggup
berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain.
Perkembangan kognitif dapat dipandang sebagai suatu perubahan
dari suatu keadaan seimbang ke dalam keseimbangan baru. Setiap tahap
perkembangan kognitif mempunyai bentuk keseimbangan tertentu sebagai fungsi
dari kemampuan memecahkan masalah pada tahap itu. Ini berarti penyeimbangan
memungkinkan terjadinya transformasi dari bentuk penalaran sederhana ke bentuk
penalaran yang lebih komplek, sampai mencapai keadaan terakhir yang diwujudkan
dengan kematangan berfikir orang dewasa
Perkembangan kognitif secara spesifik difokuskan pada
perubahan dalam cara berfikir, memecahkan masalah, memori, dan intelegensi.
Pengetahuan berkembang melalui peningkatan-peningkatan pola-pola yang teratur
sejak bayi hingga masa dewasa, dan beberapa kemampuan kognitif akan menurun
pada masa tua dikarenakan proses pematangan atau kemunduran neurologis dan
fisik individu yang berbaur dengan lingkungannya..
B. Teori Perkembangan Kognitif
1. Teori
Perkembangan Kognitif Piaget
Teori
perkembangan kognitif piaget merupakan salah satu teori yang menjelaskan
bagaimana anak beradaptasi dengan lingkungannya dan menginterprestasikan objek
dan kejadian – kejadian di sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri – ciri
dan fungsi dari objek – objek, seperti perabotan, mainan, makanan dan serta
objek – objek sosial seperti diri, orang tua dan teman. Bagaimana cara anak
mengelompokkan objek – objek untuk mengetahui persamaan – persamaan dan
perbedaan – perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan objek –
objek atau peristiwa – peristiwa untuk membentuk perkiraan tentang objek dan
peristiwa tersebut. Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif didalam
menyusun pengetahuannya mengenai realitas.[3]
Anak
tidak pasif dalam menerima informasi. Walaupun proses berfikir dan konsepsi
anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalamannya dengan dunia
sekitarnya, namun anak juga berperan aktif dalam menginterprestasikan informasi
yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada
pengetahuan dan konsepsimengenai dunia yang telah ia punyai. (Herherington dan
Parke,1975).
Piaget
meneliti dan menulis subjek perkembangan kognitif dari 1929 sampai 1980. Tidak
seperti ahli-ahli psikologi sebelumnya, Piaget menyatakan cara berpikir
anak-anak berbeda bukan hanya kurang matang dibandingkan orang dewasa karena
kalah pengetahuan, tetapi berbeda pula secara kualitatif. Artinya, cara
anak-anak berpikir tidak sama dengan orang dewasa. Tatkala dikemukakan pertama
kali oleh Piaget, teori ini sangat radikal, tetapi saat ini secara umum sudah
diterima dalam psikologi perkembangan kognitif. Ada beberapa hal yang akan
dibahas dalam teori Piaget ini terkait dengan perkembangan kognitif anak,
diantaranya adalah:
a. Cara
belajar anak
Piaget melihat perkembangan
intelektual sebagai proses membangun model realitas dalam diri. Dalam rangka
memperoleh informasi mengenai cara-cara membangun gambaran batin tentang dunia luar,
sebagian besar masa kecil kita dihabiskan untuk aktif mempelajari diri kita
sendiri dan dunia luar. Piaget menyebutkan, dunia mental anak terdiri dari dua
model struktur, yaitu:
a) Pola
Pola adalah paket-paket
informasi yang tiap-tiapnya berhubungan satu aspek dunia, termasuk objek, aksi,
dan konsep abstrak. Piaget percaya bahwa manusia dilahirkan dengan membawa
beberapa pola yang memungkinkannya berinteraksi dengan manusia lain. Selama
tahun pertama kehidupannya, manusia menyusun pola-pola lain. Pola awal yang
penting adalah pola-ku (me-schema)
yang berkebang seiring kesadaran anak dalam bulan-bulan pertama kehidupannya
bahwa dirinya sendiri merupakan objek yang berdiri sendiri, terpisah dari dunia
sekitarnya.
Jika
pola-pola yang sudah dimiliki anak mampu menjelaskan hal-hal yang dirasakan
anak dari lingkungannya, kondisi ini dinamakan keadaan ekuilibrium. Namun
ketika anak menghadapi situasi baru yang tidak bisa dijelaskan dengan pola-pola
yang ada, anak mengalami sensasi disekuilibrium yang tidak menyenangkan. Piaget
mengidentifikasi dua proses dengan ekuilibrium terjadi di dalamnya, yaitu
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika sebuah pengalaman baru
dipahami dengan jalan mengubah pola yang sudah ada. Sedangkan akomodasi terjadi
tatkala sebuah pengalaman baru amat sangat berbeda, sehingga tidak bisa
diasimilasika dengan pola yang sudah ada dan perlu dibuat pola baru.
b) Operasi
Selain pengetahuan tentang
berbagai aspek di dunia, kita juga perlu memahami aturan-aturan yang berlaku di
sana. Piaget menyebut aturan-aturan ini operasi. Cara berpikir anak-anak
berbeda-beda menurut tingkat perkembangannya. Penyebab operasi-operasi anak
menjadi matang seiring dengan bertambahnya usia. Pola perkembangan seiring
dengan pengalaman, namun Piaget percaya operasi berkembang seiring dengan
perkembangan otak anak. Anak yang masih sangat kecil belum memiliki operasi
sama sekali. Operasi-operasi pertama yang muncul bersifat konkret, artinya
anak-anak hanya bisa mengerti aturan-aturan yang bisa dilihat oleh mereka. Baru
selanjutnya mereka bisa memahami aturan konsep-konsep abstrak. Kesalahan logika
yang diidentifikasi Piaget pada pemikiran anak-anak terjadi karena keterbatasan
operasi yang dimiliki anak. Teori tahap perkembangan Piaget didasarkan pada
perkembangan operasi ini.
b. Cara
berpikir anak
Piaget melakukan serangkaian
studi yang meneliti kemampuan mental pada anak. Penelitian-penelitian pertama
Piaget berupa observasi pada anak-anak yang sedang bermain dan berusaha
menyelesaikan masalah. Piaget mencatat bahwa anak-anak pada usia yang sama
cenderung membuat kesalahan yang sama, dan tampaknya kesalahan itu bersumber
dari kesalahan logika yang sama. Dari observasi ini muncul pemikiran bahwa
pengetahuan anak-anak bukan Cuma terbatas, tetapi mereka pun berpikir dengan
cara yang berbeda dengan orang dewasa. Selanjutnya Piaget mengembangkan fungsi
wawancara klinis untuk memperkuat pemikiran bahwa logika anak-anak berbeda
dengan orang dewasa. Ketika anak-anak itu berbuat kesalahan dalam tugas yang
sedang mereka selesaikan, Piaget mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang cara
mereka menyimpulkan kejadian itu.
Piaget
mengidentifikasi adanya kesalahan-kesalahan logika yang yang khas pada
anak-anak dari berbagai usia. Piaget melihat tahap-tahap perkembangan kognitif
ditunjukkan dengan tipe kesalahan logika yang berbeda-beda. Kesalahan-kesalahan
logika ini termasuk animisme dan artifisialisme, serta object impermanence,
egosentrisme, dan ketidakmampuan untuk melakukan konservasi.
a) Object
impermanence
Kesalahan ini diyakini Piaget
terjadi pada anak berusia di bawah 8 bulan. Piaget (1963) memperhatikan bayi
akan mengabaikan objek yang sangat menarik sekalipun jika objek itu dihilangkan
dari pandangan mereka. Piaget megartikan hal ini bahwa anak-anak yang masih
sangat kecil tidak mengetahui keberlangsungan keberadaan sebuah benda jika
benda itu lenyap dari pandangan. Jelas, jika anak mengetahui fakta bahwa
benda-benda fisik tetap ada kendati tidak tampak dalam jangkauan pandangannya,
anak bisa langsung memiliki pemahaman tentang keadaan dunia ini.
b) Egosentrisme
Kesalahan logika ini mengacu
pada kecenderungan anak dalam melihat dunia dari sudut pandanganya sendiri dan
sulit sekali melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Berbeda dengan object
impermanence dan animisme yang berhubungan dengan usia tertentu, egosentrisme
berangsur-angsur lenyap selama masa kanak-kanak. Piaget berpendapat
egosentrisme berlaku baik pada konsep abstrak maupun konkret. Egosentrisme juga
terjadi dalam pemikiran yang lebih abstrak, misalnya konsep anak tentang
moralitas. Realisme moral adalah keadaan ketika anak pada masa tertentu hanya
melihat benar dan salah dari sudut pandang. Melalui metode wawancara klinis,
Piaget mengetahui bahwa anak-anak tidak bisa mempertimbangkan alasan-alasan
orang lain karena anak-anak belum mampu memahami situasi dari sudut pandang
orang lain. Itulah sebabnya anak-anak cenderung membuat pertimbagan yang sangat
keras dan berat sebelah mengenai keputusan-keputusan moral.
c) Ketidakmampuan
untuk melakukan konservasi
Piaget (1952) menemukan bahwa
anak-anak kecil sulit menerima gagasan tentang konservasi, yaitu bahwa
kuantitas benda-benda sebenarnya sama walaupun penampilannya berubah. [4]
Jean Piaget (Bybee dan Sund, 1982) membagi
perkembangan kognitif menjadi empat tahapan sebagai berikut:
1)
Tahap sensori-motoris
Tahap
ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini, anak berada dalam suatu masa
pertumbuhan yang ditandai oleh kecenderungan-kecenderungan sensori-motoris yang
sangat jelas. Segala perbuatan merupakan perwujudan dari proses pematangan
aspek sensori-motoris tersebut.
Menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982 : 27), pada tahap
ini interaksi anak dengan lingkungannya, termasuk orang tuanya, terutama
dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya. Dalam melakukan interaksi dengan
lingkungannya, termasuk juga dengan orang tuanya, anak mengembangkan
kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan, melakukan berbagai
gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengoordinasikan
tindakan-tindakannya.
2)
Tahap praoperasional
Tahap
ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab
perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh
suasana intuitif. Artinya, semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh
pemikiran tetapi oleh unsur perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang
diperoleh dari orang-orang bermakna dan lingkungan sekitarnya.
Pada tahap ini, menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982 :
29), anak sangat bersifat egosentris sehingga seringkali mengalami masalah dalam
berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk dengan orang tuanya. Dalam
berinteraksi dengan orang lain, anak cenderung sulit untuk dapat memahami
pandangan orang lain dan lebih banyak mengutamakan pandangannya sendiri. Dalam
berinteraksi dengan lingkungannya, ia masih sulit untuk membaca kesempatan atau
kemungkinan, kemungkinan karena masih punya anggapan bahwa hanya ada satu
kebenaran atau peristiwa dalam setiap situasi.
Pada tahap ini, anak tidak selalu ditentukan oleh
pengamatan indrawi saja, tetapi juga pada intuisi. Anak mampu menyimpan
kata-kata serta menggunakannya, terutama yang berhubungan erat dengan kebutuhan
mereka. Pada masa ini anak siap untuk belajar bahasa, membaca, dan menyanyi.
Ketika kita mengggunakan bahsa yang benar untuk berbicara pada anak, akan
mempunyai akibat sangat baik pada perkembangan bahasa mereka. Cara belajar yang
memegang peran pada tahap ini adalah intuisi. Intuisi membebaskan mereka, dari
berbicara semaunya tanpa menghiraukan pengalaman konkret dan paksaan dari luar.
Sering kita lihat anak berbicara sendiri dengan benda-benda yang ada
disekitarnya, misalnya pohon, anjing, kucing, dan sebagaianya, yang menurut
mereka benda-benda tersebut dapat mendengar dan berbicara. Peristiwa semacam
ini baik untuk melatih diri anak menggunakan kekayaan bahasanya. Piaget
menyebut tahap ini sebagai Collective
monologue, pembicara yang egosentris dan sedikit hubungan dengan orang
lain.
3)
Tahap operasional
konkret
Tahap
ini berlangsung antara usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan
diri dengan realitas konkret dan sudah mulai berkembang rasa ingin tahunya.
Pada tahap ini, menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982) interaksinya dengan
lingkungannya, termasuk dengan orang tua sudah semakin berkembang dengan baik
karena egosentrisnya sudah semakin berkurang. Anak sudah dapat mengamati,
menimbang, mengevaluasi, dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dalam
cara-cara yang kurang egosentris dan lebih objektif.
Pada tahap ini juga anak sudah memahami hubungan
fungsional karena mereka sudah menguji coba suatu permasalahan. Cara berpikir
anak yang masih bersifat konkret. Di sini sering terjadi kesulitan antara orang
tua dan guru. Misalnya, orang tua ingin menolong anak mengerjakan pekerjaan
rumah, tetapi memakai cara yang berbeda dengan cara yang dipakai oleh guru
sehingga anak tidak setuju. Sementara seringkali anak lebih percaya terhadap
apa yang dikatakan oleh gurunya daripada orang tuanya. Akibatnya, kedua cara
tersebut baik yang diberikan oleh guru maupun orang tuanya sama-sama tidak dimengerti
oleh anak.
4)
Tahap operasional
formal
Tahap
ini dialami oleh anak pada usia 11 tahun ke atas. Pada masa ini, anak telah
mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari
berpikir logis. Aspek perasaan dan moralnya juga telah berkembang sehingga
dapat mendukung penyelesaian tugas-tugasnya.
Pada tahap ini, menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982),
interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas, menjangkau banyak teman
sebayanya dan bahkan jarang menimbulkan masalah dalam interaksinya dengan orang
tua. Namun, sebenarnya secara diam-diam mereka juga masih mengharapkan
perlindungan dari orang tua karena belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan
dirinya sendiri. Jadi, pada tahap ini ada semacam tarik menarik antara ingin
bebas dengan ingin dilindungi.
Karena pada ini anak sudah mulai mampu mengembangkan
pikiran formalnya, mereka juga mulai mampu mencapai logika dan rasio serta
dapat menggunakan abstraksi. Arti simbolik dan kiasan dapat mereka mengerti.
Melibatkan mereka dalam suatu kegiatan akan lebih memberikan akibat yang
positif bagi perkembangan kognitifnya. Misalnya, menulis puisi, lomba karya
ilmiah, lomba menulis cerpen, dan sejenisnya.
Perkembangan masing – masing tahap
merupakan hasil perbaikan dari perkembangan tahap sebelumnya. Hal ini bererti
bahwa setiap individu akan melewati serangkaian perubahan kualitatif yang
bersifat invarian, selalu tetap, tidak melompat atau mundur. Perubahan
perubahan kualitatif ini terjadi karena tekanan biologis untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungan serta adanya pengorganisasian struktur berfikir. Dari
sudut biologis, ada sistem yang mengatur dari dalam sehingga organisme memiliki
sistem yang pencernaan, peredaran darah, sistem pernafasan dan lain – lain. Hal
lain juga terjadi pada sistem kognisi dimana adanya sistem yang mengatur dari
dalam yang kemudian dipengaruhi oleh faktor – faktor lingkungan. Untuk memahami
stuktur kognisi yang mendasari pola – pola tingkah laku Piaget menggunakan
istilah skema dan adaptasi. Dengan kedua komponen ini berarti bahwa kognisi
merupakan sistem yang selalu diorganisir dan diadaptasi, sehingga memungkinkan
individu beradaptasi dengan lingkungannya.
Adaptasi
(struktur fungsional) merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menunjukkan pentingnya pola
hubungan individu dengan lingkungan dalam proses perkembangan koknitif. Bayi
manusia ketika dilahirkan telah dilengkapi dengan kebutuhan-kebutuhan dan juga
kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Adaptasi ini muncul
dengan sendirinya ketika bayi tersebut mengadakan interaksi dengan dunia
disekitarnya. Mereka akan belajar menyesuaikan diri dan mengatasinya, sehingga
kemampuan mentalnya akan berkembang dengan sendirinya. Adaptasi ini terdiri
dari 2 proses yang saling melengkapi, yaitu:
a. Asimilasi
Asimilasi merupakan integrasi
antara elemen-elemen eksternal (dari luar) terhadap struktur yang sudah lengkap
pada organisme. Asimilasi kognitif mencakup perubahan objek eksternal menjadi
struktur pengetahuan internal (Lerner dan Hultsch, 1983). Proses asimilasi
didasarkan atas kenyataan bahwa setiap saat manusia selalu mengasimimilasikan
informasi-informasi yang sampai kepadanya, kemudian informasi-informasi
tersebut dikelompokkan kedalam istilah-istilah yang sebelumnya sudah mereka
ketahui. Misalnya, seorang bayi yang menghisap puting susu ibunya atau dot
botol susu, akan melakukan tindakan yang sama (menghisap) terhadap objek baru
yang mereka temukan, seperti bola karet atau jempolnya. Perilaku bayi menghisap
semua objek memperlihatkan proses asimilasi. Artinya dengan gerakan menghisap
puting susu ibunya, bayi menginterpretasikan ibu jari dengan struktur kognitif
yang sudah ada yaitu puting susu ibunya.
b. Akomodsasi
Akomodasi merupakan
menciptakan langkah baru atau memberbarui atau menggabungkan istilah lama untuk
menghadapi tantangan baru. Sehingga akomodasi kognitif dapat diartikan
pengubahan struktur kognitif yang sudah dimiliki sebelumnya untuk disesuaikan
dengan objek stimulus eksternal. Jadi, kalau pada asimilasi terjadi pada
objeknya maka akomodasi perubahan terjadi pada subjeknya, sehingga ia dapat
menyesuaikan diri dengan objek yang ada diluar dirinya. Struktur kognitif yang
sudah ada dalam diri seseorang mengalami perubahan supaya sesuai dengan
rangsangan-rangsangan dari objeknya. Misalnya, bayi melakukan tindakan yang
sama dengan ibu jarinya, yaitu menghisap. Ini berarti bahwa bayi mengubah
puting susu ibunya menjadi ibu jari hal ini disebut akomodasi.
Piaget mengemukakan bahwa setiap organisme
yang ingin mengadakan penyesuaian (adaptasi) dengan lingkungan harus mencapai
keseimbangan, antara aktifitas individu terrhadap lingkungan (asimilasi) dan
aktifitas lingkungan terhadap individu (akomodasi) hal ini berarti, ketika
individu bereaksi terhadap lingkungannya, dia menggabungkan stimulus dunia luar
dengan struktur yang sudah ada, yang disebut asimilasi. Pada saat yang sama
ketika lingkungan bereaksi pada individu dan individu mengubah supaya sesuai
dengan stimulus dunia luar maka inilah yang disebut akomodasi (Lerner dan
Hultsch, 1983). Agar terjadi keseimbangan antara diri individu dengan
lingkungan, maka peristiwa-peristiwa asimilasi dan akomodasi harus terjadi
secara terpadu, bersama-sama dan komplomenter.
2. Teori
Perkembangan Vygotsky
a. Dasar
pembelajaran sosial dan budaya
Sementara Piaget memandang
anak-anak sebagai pembelajaran lewat penemuan individual, Vygotsky lebih banyak
menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam memudahkan
perkembangan si anak. Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang
relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan
perhatian. Namun, anak-anak tak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi
seperti ingatan, berpikir, dan menyelesaikan masalah. Fungsi-fungsi mental yang
lebih tinggi ini dianggap sebagai alat kebudayaan tempat individu hidup dan
alat-alat itu berasal dari budaya. Alat-alat itu diwariskan pada anak-anak oleh
anggota-anggota kebudayaan yang lebih tua selama pengalaman pembelajaran yang
dipandu. Pengalaman dengan orang lain secara beragsur-angsur menjadi semakin
mendala dan membentuk gambaran batin anak tentang dunia. Karena itulah berpikir
setiap anak dengan cara yang sama
dengan anggota lain dalam kebudayaannya.
b. Zona
perkembangan proksimal
Meskipun pada akhirnya
anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa konsep melalui pengalaman
sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang jika
berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan pernah megembagkan
pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain. Vygotsky menyebut
perbedaan antara hal-hal yang bisa dipelajari lewat interaksi dengan orang lain
sebagai zona perkembangan proksimal atau siklus perkembangan. Selain itu
Vygotsky lebih menekankan orang lainlah yang mengarahkan anak cara untuk
menggali kemampuan dirinya.
c. Peranan
bahasa
Vygotsky lebih banyak menekankan bahasa dalam
perkembangan kognitif. Bahasa anak berkembang dari interaksi sosial dengan
orang lain. Bahasa dan pemikiran berkembang sendiri-sendiri, tetapi selanjutnya
anak mendalami bahasa dan belajar menggunakannya sebagai alat untuk membantu
memecahkan masalah. Dalam tahap praoperasional, ketika anak belahar menggunakan
bahasa untuk menyelesaikan masalah, mereka berbicara lantang sembari
menyelesaikan masalah. Sebaliknya, begitu menginjak tahap operasional konkret,
percakapan batiniah ini tidak terdengar lagi.
3. Teori
Pemrosesan Informasi
Teori
pemrosesan informasi merupakan teori alternatif terhadap teori korgnitif
piaget. Berbeda dengan piaget, pemrosesan informasi tidak menggambarkan perkembangan
dalam tahap-tahap atau serangkaian sub tahap tertentu. Sebaliknya, lebih
menekankan pentingnya proses-proses kognitif, seperti persepsi, seleksi
perhatian, memori dan strategi kognitif. Teori pemrosesan ini didasarkan atas
tiga asumsi umum, pertama pikiran dipandang sebagai sistem penyimpanan dan
pengembalian informasi. Kedua, inidividu memproses informasi dari lingkungan,
dan ketiga terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari
seseorang individu (zigler dan stivenson, 1993).
Berdasarkan
pandangan diatas dapat dipahami bahwa teori pemrosesan informasi lebih
menekankan pada bagaimana individu memproses informasi tentang dunia mereka
bagaimana informasi masuk kedalam pikiran, bagaimana informasi untuk disimpan
dan disebarkan, dan bagaimana informasi diambil kembali untuk melakukan
aktifitas-aktifitas yang kompleks, seperti memecahkan masalah dan berfikir. [5]
C. Tahapan-Tahapan Perkembangan Kognitif
1. Perkembangan
Kognitif Masa Bayi
Perkembangan
kognitif pada masa bayi, anak membangun secara aktif dunia kognitifnya dengan
menerima informasi dan berperan aktif dalam menyusun pengetahuannya dengan
keadaan sebenarnya (realitas). Piaget menyakini bahwa pemikiran seorang anak
berkembang melalui tahapan – tahapan yang bersumber dari tekanan biologis untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.[6]
Dengan demikian corak pemikiran anak dari satu tahap berbeda dengan tahap
lainnya. Tahap pemikiran bayi yaitu tahap sensoris – motorik.
Tahap pemikiran
sensoris – motorik ini berlangsung dari kelahiran hingga kira – kira 2 tahun.
Selama tahap ini perkembangan mental ditandai dengan kemajuan pesat kemampuan
bayi melalui gerakan – gerakan dan tindakan – tindakan fisik. Dalam hal ini,
bayi yang baru lahir bukan saja menerima secara pasif rangsangan – rangsangan
terhadap alat – alat indranya, melainkan juga secara aktif memberikan respon
terhadap rangsangan melalui gerakan – gerakan reflek. Jadi pada permulaan tahap
sensorik – motorik bayi memiliki lebih dari sekedar refleks yang digunakan
untuk mengkoordinasikan pikiran dengan tindakan.
Tabel
subtahap perkembangan sensoris – motorik
|
Tahap
|
Usia
|
Karakteristik
|
|
Early Refleks
|
0 - 1
|
Kepercayaan atas refleks bawaan sejak lahir
untuk mengetahui lingkungan, asimilasi dari semua pengalaman refleks seperti menelan
dan menyusu.
|
|
Primari Circular Reaction
|
1 - 4
|
Akomodasi refleks untuk menyesuaikan objek
dan pengalaman baru, bayi mengulang reaksi yang bersifat sederhana seperti
membuka dan menutup mata.
|
|
Secondary Circular Reaction
|
4 - 8
|
Tindakan yang diulang sudah terfokus pada
objek, tindakan digunakan untuk mencapai tujuan, perhatian tertuju pada benda
– benda yang bergerak.
|
|
Combined Secondary Circular Reaction
|
8 - 12
|
Bayi sudah menguasai sistem respon dan
mengkombinasikan tindakan dengan tindakan yang telah diperoleh sebelumnya
untuk mendapatkan sesuatu.
|
|
Tertiary Circular Reaction
|
12 -
18
|
Anak muali aktif menggunakan reaksi yang
bersifat “trial dan error”.
|
|
The First Symbol
|
18 -
24
|
Fungsi mental bayi berubah dari tahap
sensoris – motorik murni menjadi taraf simbolis dan bayi mulai menngembangkan
kemampuan untuk menggunakan simbol.
|
2. Perkembangan
Kognitif Masa Anak – Anak Awal
Perkembangan
kognitif pada masa anak – anak awal dinamakan tahap praoperasional yang
berlangsung dari usia 2 – 7 tahun. Pada tahap ini, penalaran mental muncul,
egosentrisme muali kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan
terhadap hal yang magis. Pemikiran praoperasional adalah suatu masa tunggu yang
singkat bagi pemikiran operasional, praoperasional menekankan bahwa anak pada
tahap ini belum berfikir secara operasional.[7]
Dalam pemikiran praoperasional adalah tahap awal kemampuan untuk merekonstruksi
pada level pemikiran apa yang telah ditetapkan dalam tingkah laku. Secara garis
besar pemikiran praoperasional dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu :
a. Subtahap
Prakonseptual ( 2 – 4 tahun )
Subtahap prakonseptual
disebut juga tahap pemikiran simbolik.
Karena karakteristik utama subtahap ini ditandai munculnya sistem – sistem
lambang atau simbol. Subtahap prakonseptual merupakan subtahap praoperasional
yang terjadi kira – kira usia 2 – 4 tahun. Pada subtahap ini anak – anak
mengembangkan kemampuan menggambarkan atau membayangkan secara mental suatu
objek yang tidak ada dengan sesuatu yang lain. Misalnya, pisau yang terbuat
dari plastik merupakan sesuatu yang nyata, mewakili sesuatu yang sesungguhnya.
Kemunculan pemikiran yang simbolik pada tahap praoperasional ini dianggap
sebagai pencapaian kognitif yang paling penting. Melalui pemikiran simbolis
anak prasekolah anak dapat mengorganisir dan memproses apa yang mereka ketahui.
Anak – anak dapat dengan mudah mengimgat kembali dan membandingkan objek – objek
dan pengalaman – pengalaman yang telah diperolehnya. Simbol juga membantu anak
– anak untuk mengkomunikasikan kepada orang lain tentang apa yang mereka
ketahui.
b. Subtahap
Intutitif ( 4 – 7 tahun )
Dalam subtahap ini, meskipun
aktivitas mental tertentu seperti mengelompokkan, mengukur dan menghubungkan
obejek – objek terjadi, tetapi anak – anak belum begitu sadar mengenai prinsip
– prinsip yang mendasari terbentuknya aktivitas tersebut. Walaupun anak mulai
dapat memecahkan masalah yang berhubungan dengan aktivitas ini, namun ia tidak
bisa menjelaskan alasan yang tepat untuk memecahkan masalah menurut cara – cara
yang tepat.
Walaupun
simbol – simbol anak meningkat, namun proses penalaran dan pemikiran masih
mempunyai ciri – ciri keterbatasan tertentu. Seperti keterbatasan
mengelompokkan berbagai hal berdasarkan dimensi tertentu, misalnya anak belum
dapat mengelompokkan tongkat berdasarkan urutan dari yang terpendek hingga
terpanjamg. Karakteristik lain dari pemikiran ini adalah pemusatan perhatian
pada satu dimensi dan mengesampingkan dimensi yang lain. Perkembangan kognitif pada
tahap ini juga ditunjukkan dengan serangkaian pertanyaan yang diajukan yang
tidak jarang orang dewasa kebingungan untuk menjawabnya.
3. Perkembangan
Kognitif Anak Masa Pertengahan dan Akhir Anak – Anak
Pemikiran
anak – anak usia sekolah disebut pemikiran operasional konkret. Operasional
adalah hubungan – hubungan logis diantara konsep – konsep atau skema – skema.
Sedangkan operasional konkret adalah aktivitas mental yang difokuskan pada
objek – objek dan peristiwa – peristiwa nyata atau konkret. Pada masa ini anak
sudah mengembangkan pemikiran logisnya. [8]
Dalam
upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan
informasi yang bersumber dari pancaindera, karena ia mulai mempunyai kemampuan
untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan seseungguhnya, dan
antara yang bersifat sementara dengan yang bersifat menetap. Misalnya mereka
akan tahu bahwa air dalam gelas besar pendek dipindahkan dalam gelas yang kecil
tinggi akan tetap sama karena tidak setetespun air yang tumpah. Hal ini karena
mereka tidak lagi mengandalkan persepsi penglihatannya, melainkan sudah
menimbang dan menghitung jumlahnya.
Menurut
Piaget, anak – anak pada masa konkret operasional telah mampu menyadari
kemampuan anak untuk berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbedasecara
serempak (Johnson dan Medinnus, 1974). Hal ini karena pada masa ini anak sudah
mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi – operasi yaitu :
a. Negasi
Pada masa ini anak mulai
memahami proses apa yang terjadi diantara kegiatan yang dilakukan dan memahami
hubungan – hubungan antara keduanya. Pada deretan benda – benda anak bisa
mengembalikan atau membatalkan perubahan yang terjadi sehingga bisa menjawab bahwa
jumlah benda adalah tetap sama.
b. Resiprokasi
( Hubungan Timbal Balik )
Ketika anak melihat deretan
dari benda – benda dirubah, anak mengetahui bahwa deretan benda – benda itu
bertambah panjang tetapi tidak rapat lagi dibandingkan deretan benda – benda
yang lain. Karena anak mengetahui hubungan timbal balik antara panjang dan
kurang rapat atau sebaliknya rapat tetapi kurang panjang, maka anak tau bahwa
jumlah benda – benda pada kedua deretan itu sama.
c. Identitas
Anak pada masa konkret
operasional anak sudah bisa mengenal satu persatu benda – benda pada deretan –
deratan itu. Anak bisa menghitung, sehingga meskipun benda – benda itu
dipindahkan anak mengetahui bahwa jumlah benda itu tetap sama.
Kemampuan
anak melakukan operasi – operasi mental dan kognitif ini memungkinkannya
mengadakan hubungan yang lebih luas dengan dunianya. Operasi dalam diri anak
memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa melihat bahwa
perbuatan tersebut ditunjukkan. Jadi anak telah memiliki struktur kognitif yang
memungkinkan dapat berfikir untuk melakukan tindakan, tanpa mereka sendiri
bertindak secara nyata.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam pandangan Piaget berpendapat bahwa belajar merupakan proses
menyesuaikan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dipunyai
seseorang. Berbeda dari Piaget, Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan kognisi
sangat terkait dengan masakan dari orang-orang lain. Namun, sama seperti
Piaget, Vygotsky percaya bahwa perolehan sistem-sistem tanda terjadi dalam
urutan langkah-langkah tetap yang sama untuk semua anak.
Dari beberapa teori mengenai perkembangan kognitif tersebut, dapat disimpulkan
bahwa menurut Piaget proses perkembangan kognif sejalan dengan kemajuan
anak-anak dan dia menggambarkan bahwa anak mampu melakukan sendiri atau
memandang anak-anak sebagai pembelajaran lewat penemuan sendiri. Teori vygotsky lebih meneknkan peranan orang dewasa atau anak-anak lain
dalam memudahkan perkembangan si anak. Sedangkan teori pemrosesan informasi lebih menekankan
pada bagaimana individu memproses informasi tentang dunia mereka bagaimana
informasi masuk kedalam pikiran, bagaimana informasi untuk disimpan dan
disebarkan, dan bagaimana informasi diambil kembali untuk melakukan
aktifitas-aktifitas yang kompleks, seperti memecahkan masalah dan berfikir
B. Saran
Penulis
berharap semoga kita sebagai calon pendidik dan bagi
orang tua ebaiknya memahami dan mengetahui perkembangan kognitif pada anak dan
bisa mengembangkannya agar dapat memberikan stimulasi yang tepat pada anak
sesuai dengan tahap perkembangannya. Dan penulis berharap pembaca
dapat mencari sumber-sumber bacaan lain, karena dalam penulisan ini penulis
masih banyak kekurangan.
DAFTAR PUSTAKA
Ali,
Mohammad dan Asrori, Mohammad. 2010. Psikologi
Remaja “Perkembangan Peserta Didik”. Jakarta: Bumi Aksara.
Desmita.
2007. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT.Remaja
Rosdakarya.
Jahja, Yurdik. 2011. Psikologi Perkembangan,. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Jarvis, Matt. 2007. Teori-Teori Psikologi.
Bandung: Nusamedia & Nuansa.
Samsunuwijayati.
2007. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT.Remaja
Rosdakarya.
[2] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi
Remaja “Perkembangan Peserta Didik”, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hal.26
[3] Samsunuwijayati,Psikologi Perkembangan,(Bandung : PT.Remaja
Rosdakarya, 2007), hal : 46
[5] Desmita,Psikologi Perkembangan,(Bandung : PT.Remaja Rosdakarya,
2007), hal : 49
MAKALAH
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Perkembangan Kognitif
Anak
Makalah
Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata
Kuliah Media Pembelajaran Semester Ganjil
Dosen Pengampu :
Zusy
Ariyanti, S.Psi, MA
Disusun Oleh
Kelompok V :
ANNISA
SEPTIANI 1289905
ERMA KARTIKA SARI 1290135
MUHAMMAD MUZAKI 1290435
Prodi : PGMI / IV

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
NEGERI (STAIN)
JURAI SIWO METRO
2014
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarokatuh
Puji syukur kepada Allah Subhanahuwata’ala
karena atas berkat rahmat, nikmat dan hidayahNya makalah ini dapat diselesaikan
dengan baik.
Ucapan
terima kasih juga ditujukan kepada Ibu
Zusy selaku dosen mata kuliah Psikologi
Perkembangan yang telah memberikan arahan dan nasehat
sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai waktu yang telah disepakati.
Tidak lupa teman-teman yang telah membantu
baik pikiran maupun materi. Tim penulis berharap semoga makalah ini dapat
berguna bagi tim penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarokatuh
Metro, Oktober 2014
Tim Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
.................................................................................. i
KATA PENGANTAR
............................................................................... ii
DAFTAR ISI
............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah ......................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah................................................................................... 1
C. Tujuan
Penulisan..................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Perkembangan
Kognitif ......................................................................... 2
B. Teori-Teori
Perkembangan Kognitif........................................................ 4
a. Teori
Perkembangan Kognitif Piaget ............................................... 4
b. Teori
Perkembangan Kognitif Vygotsky ......................................... 13
c. Teori
Perkembangan Kognitif Pemrosesan Informasi ...................... 14
C. Tahapan-Tahapan
Perkembangan Kognitif pada Anak........................... 15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
............................................................................................. 21
B. Saran
....................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Seiring
dengan perkembangan masyarakat yang ditandai dengan perubahan – perubahan cepat
dalam berbagai kehidupan individu, psikologi perkembangan semakin dirasakan
kegunaannya oleh masyarakat. Masyarakat semakin menyadari betapa individu (anak
– anak, remaja, dan dewasa ) yang hidup pada era modern sekarang berada pada
masa – masa yang sulit.
Dalam
setiap perkembangan individu melalui tahapan – tahapan tertentu yang berbeda
dalam setiap tahapan perkembangannya. Oleh karena itu psikologi perkembangan
bertujuan untuk mengetahui perubahan – perubahan dan perkembangan struktur
jasmani, perilaku dan fungsi mental manusia dalam berbagai tahapan
kehidupannya. Teori perkembangan dalam hal ini memberikan informasi dan wawasan
yang logis dan jelas untuk menggambarkan dan mamahami perilaku atau gejala –
gejala yang menimbulkan perubahan – perubahan dalam perkembangan.
Oleh
karena itu dalam makalah ini akan diuraikan tentang perkembangan kognitif pada
anak – anak.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa yang
dimaksud perkembangan kognitif ?
2. Jelaskan
macam – macam teori perkembangan kognitif ?
3. Bagaimana
tahapan-tahapan perkembangan kognitif pada anak?
C. Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui apakah yang dimaksud perkembangan
kognitif.
2. Untuk
mengetahui apa saja teori-teori
perkembangan kognitif.
3. Untuk
mengetahui bagaimana tahapan-tahapan perkembangan
kognitif anak.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan Kognitif
Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal). Teori kognitif lebih menekankan
bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang
dimiliki oleh orang lain.
Berbeda
dengan teori psikoanalitis yang menekankan pada pikiran – pikiran tidak sadar
anak – anak, pada teori kognitif ini menekankan pada pikiran sadar mereka. Teori kognitif didasarkan pada
pandangan bahwa kemampuan kognitif merupakan sesuatu yang mendasar dan yang
membimbing tingkah laku anak. Dengan demikian maka anak dipandang sebagai individu
yang secara aktif membangun sendiri pengetahuan mereka tentang dunia. Dalam
perkembangan kognitif didominasi oleh dua teori, yaitu teori kognitif piaget
dan teori pemrosesan informasi.
Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan
anak untuk mengeksplorasi lingkungan karena bertambah besarna koordinasi dan
pengendalian motorik, maka dunia kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif,
bebas, dan imajinatif.[1]
Perkembangan kognitif manusia merupakan proses
psikologis yang di dalamnya melibatkan proses memperoleh, menyusun, dan
menggunakan pengetahuan, serta kegiatan mental seperti berpikir, menimbang,
mengamati, mengingat, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan memecahkan
persoalan yang berlangsung melalui interaksi dengan lingkungan. [2]
Perkembangan kognitif merupakan perkembangan pikiran. Pikiran anak
adalah bagian dari otaknya yang bertanggung jawab terhadap bahasa, pembentukan mental, pemahaman,
penyelesaian masalah, pandangan, penilaian, pemahaman sebab akibat, serta
ingatan.
Perkembangan
kognitif pada setiap anak berbeda-beda sesuai dengan tingkatan usianya. Perkembangan kognitif merupakan perubahan
yang terjadi pada tingkat kemampuan berpikir anak atau peningkatan kemampuan
berpikir anak. Peningkatan yang terjadi pada pola pikir anak dapat dipengaruhi
oleh lingkungan sekitar anak. Lingkungan sekitar dapat membantu anak untuk
mengembangkan pemikirannya. Karena lingkungan
merupakan tempat anak untuk belajar mengenal dan memahami sesuatu yang baru.
Saat anak berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan sekitar, anak dapat
mendapatkan sesuatu hal yang belum pernah ia temukan dan itu merupakan suatu
pengalaman bagi mereka. Dengan adanya pengalaman yang ia dapatkan akan hal yang
baru tersebut, ia dapat memiliki asumsi dan kesan tersendiri akan hal yang ia
rasakan. Interaksi yang dilakukan oleh seorang anak terhadap orang-orang di
lingkungan sekitar dapat mengembangkan pengetahuan si anak. Hal ini sesuai
dengan teori Vygotsky yang mengatakan bahwa pembelajaran mendahului perkembangan.
Pembelajaran melibatkan perolehan tanda-tanda melalui pengajaran dan informasi
dari orang lain di
lingkungan sekitar. Perkembangan
melibatkan internalisasi anak terhadap tanda-tanda ini sehingga sanggup
berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain.
Perkembangan kognitif dapat dipandang sebagai suatu perubahan
dari suatu keadaan seimbang ke dalam keseimbangan baru. Setiap tahap
perkembangan kognitif mempunyai bentuk keseimbangan tertentu sebagai fungsi
dari kemampuan memecahkan masalah pada tahap itu. Ini berarti penyeimbangan
memungkinkan terjadinya transformasi dari bentuk penalaran sederhana ke bentuk
penalaran yang lebih komplek, sampai mencapai keadaan terakhir yang diwujudkan
dengan kematangan berfikir orang dewasa
Perkembangan kognitif secara spesifik difokuskan pada
perubahan dalam cara berfikir, memecahkan masalah, memori, dan intelegensi.
Pengetahuan berkembang melalui peningkatan-peningkatan pola-pola yang teratur
sejak bayi hingga masa dewasa, dan beberapa kemampuan kognitif akan menurun
pada masa tua dikarenakan proses pematangan atau kemunduran neurologis dan
fisik individu yang berbaur dengan lingkungannya..
B. Teori Perkembangan Kognitif
1. Teori
Perkembangan Kognitif Piaget
Teori
perkembangan kognitif piaget merupakan salah satu teori yang menjelaskan
bagaimana anak beradaptasi dengan lingkungannya dan menginterprestasikan objek
dan kejadian – kejadian di sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri – ciri
dan fungsi dari objek – objek, seperti perabotan, mainan, makanan dan serta
objek – objek sosial seperti diri, orang tua dan teman. Bagaimana cara anak
mengelompokkan objek – objek untuk mengetahui persamaan – persamaan dan
perbedaan – perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan objek –
objek atau peristiwa – peristiwa untuk membentuk perkiraan tentang objek dan
peristiwa tersebut. Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif didalam
menyusun pengetahuannya mengenai realitas.[3]
Anak
tidak pasif dalam menerima informasi. Walaupun proses berfikir dan konsepsi
anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalamannya dengan dunia
sekitarnya, namun anak juga berperan aktif dalam menginterprestasikan informasi
yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada
pengetahuan dan konsepsimengenai dunia yang telah ia punyai. (Herherington dan
Parke,1975).
Piaget
meneliti dan menulis subjek perkembangan kognitif dari 1929 sampai 1980. Tidak
seperti ahli-ahli psikologi sebelumnya, Piaget menyatakan cara berpikir
anak-anak berbeda bukan hanya kurang matang dibandingkan orang dewasa karena
kalah pengetahuan, tetapi berbeda pula secara kualitatif. Artinya, cara
anak-anak berpikir tidak sama dengan orang dewasa. Tatkala dikemukakan pertama
kali oleh Piaget, teori ini sangat radikal, tetapi saat ini secara umum sudah
diterima dalam psikologi perkembangan kognitif. Ada beberapa hal yang akan
dibahas dalam teori Piaget ini terkait dengan perkembangan kognitif anak,
diantaranya adalah:
a. Cara
belajar anak
Piaget melihat perkembangan
intelektual sebagai proses membangun model realitas dalam diri. Dalam rangka
memperoleh informasi mengenai cara-cara membangun gambaran batin tentang dunia luar,
sebagian besar masa kecil kita dihabiskan untuk aktif mempelajari diri kita
sendiri dan dunia luar. Piaget menyebutkan, dunia mental anak terdiri dari dua
model struktur, yaitu:
a) Pola
Pola adalah paket-paket
informasi yang tiap-tiapnya berhubungan satu aspek dunia, termasuk objek, aksi,
dan konsep abstrak. Piaget percaya bahwa manusia dilahirkan dengan membawa
beberapa pola yang memungkinkannya berinteraksi dengan manusia lain. Selama
tahun pertama kehidupannya, manusia menyusun pola-pola lain. Pola awal yang
penting adalah pola-ku (me-schema)
yang berkebang seiring kesadaran anak dalam bulan-bulan pertama kehidupannya
bahwa dirinya sendiri merupakan objek yang berdiri sendiri, terpisah dari dunia
sekitarnya.
Jika
pola-pola yang sudah dimiliki anak mampu menjelaskan hal-hal yang dirasakan
anak dari lingkungannya, kondisi ini dinamakan keadaan ekuilibrium. Namun
ketika anak menghadapi situasi baru yang tidak bisa dijelaskan dengan pola-pola
yang ada, anak mengalami sensasi disekuilibrium yang tidak menyenangkan. Piaget
mengidentifikasi dua proses dengan ekuilibrium terjadi di dalamnya, yaitu
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika sebuah pengalaman baru
dipahami dengan jalan mengubah pola yang sudah ada. Sedangkan akomodasi terjadi
tatkala sebuah pengalaman baru amat sangat berbeda, sehingga tidak bisa
diasimilasika dengan pola yang sudah ada dan perlu dibuat pola baru.
b) Operasi
Selain pengetahuan tentang
berbagai aspek di dunia, kita juga perlu memahami aturan-aturan yang berlaku di
sana. Piaget menyebut aturan-aturan ini operasi. Cara berpikir anak-anak
berbeda-beda menurut tingkat perkembangannya. Penyebab operasi-operasi anak
menjadi matang seiring dengan bertambahnya usia. Pola perkembangan seiring
dengan pengalaman, namun Piaget percaya operasi berkembang seiring dengan
perkembangan otak anak. Anak yang masih sangat kecil belum memiliki operasi
sama sekali. Operasi-operasi pertama yang muncul bersifat konkret, artinya
anak-anak hanya bisa mengerti aturan-aturan yang bisa dilihat oleh mereka. Baru
selanjutnya mereka bisa memahami aturan konsep-konsep abstrak. Kesalahan logika
yang diidentifikasi Piaget pada pemikiran anak-anak terjadi karena keterbatasan
operasi yang dimiliki anak. Teori tahap perkembangan Piaget didasarkan pada
perkembangan operasi ini.
b. Cara
berpikir anak
Piaget melakukan serangkaian
studi yang meneliti kemampuan mental pada anak. Penelitian-penelitian pertama
Piaget berupa observasi pada anak-anak yang sedang bermain dan berusaha
menyelesaikan masalah. Piaget mencatat bahwa anak-anak pada usia yang sama
cenderung membuat kesalahan yang sama, dan tampaknya kesalahan itu bersumber
dari kesalahan logika yang sama. Dari observasi ini muncul pemikiran bahwa
pengetahuan anak-anak bukan Cuma terbatas, tetapi mereka pun berpikir dengan
cara yang berbeda dengan orang dewasa. Selanjutnya Piaget mengembangkan fungsi
wawancara klinis untuk memperkuat pemikiran bahwa logika anak-anak berbeda
dengan orang dewasa. Ketika anak-anak itu berbuat kesalahan dalam tugas yang
sedang mereka selesaikan, Piaget mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang cara
mereka menyimpulkan kejadian itu.
Piaget
mengidentifikasi adanya kesalahan-kesalahan logika yang yang khas pada
anak-anak dari berbagai usia. Piaget melihat tahap-tahap perkembangan kognitif
ditunjukkan dengan tipe kesalahan logika yang berbeda-beda. Kesalahan-kesalahan
logika ini termasuk animisme dan artifisialisme, serta object impermanence,
egosentrisme, dan ketidakmampuan untuk melakukan konservasi.
a) Object
impermanence
Kesalahan ini diyakini Piaget
terjadi pada anak berusia di bawah 8 bulan. Piaget (1963) memperhatikan bayi
akan mengabaikan objek yang sangat menarik sekalipun jika objek itu dihilangkan
dari pandangan mereka. Piaget megartikan hal ini bahwa anak-anak yang masih
sangat kecil tidak mengetahui keberlangsungan keberadaan sebuah benda jika
benda itu lenyap dari pandangan. Jelas, jika anak mengetahui fakta bahwa
benda-benda fisik tetap ada kendati tidak tampak dalam jangkauan pandangannya,
anak bisa langsung memiliki pemahaman tentang keadaan dunia ini.
b) Egosentrisme
Kesalahan logika ini mengacu
pada kecenderungan anak dalam melihat dunia dari sudut pandanganya sendiri dan
sulit sekali melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Berbeda dengan object
impermanence dan animisme yang berhubungan dengan usia tertentu, egosentrisme
berangsur-angsur lenyap selama masa kanak-kanak. Piaget berpendapat
egosentrisme berlaku baik pada konsep abstrak maupun konkret. Egosentrisme juga
terjadi dalam pemikiran yang lebih abstrak, misalnya konsep anak tentang
moralitas. Realisme moral adalah keadaan ketika anak pada masa tertentu hanya
melihat benar dan salah dari sudut pandang. Melalui metode wawancara klinis,
Piaget mengetahui bahwa anak-anak tidak bisa mempertimbangkan alasan-alasan
orang lain karena anak-anak belum mampu memahami situasi dari sudut pandang
orang lain. Itulah sebabnya anak-anak cenderung membuat pertimbagan yang sangat
keras dan berat sebelah mengenai keputusan-keputusan moral.
c) Ketidakmampuan
untuk melakukan konservasi
Piaget (1952) menemukan bahwa
anak-anak kecil sulit menerima gagasan tentang konservasi, yaitu bahwa
kuantitas benda-benda sebenarnya sama walaupun penampilannya berubah. [4]
Jean Piaget (Bybee dan Sund, 1982) membagi
perkembangan kognitif menjadi empat tahapan sebagai berikut:
1)
Tahap sensori-motoris
Tahap
ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini, anak berada dalam suatu masa
pertumbuhan yang ditandai oleh kecenderungan-kecenderungan sensori-motoris yang
sangat jelas. Segala perbuatan merupakan perwujudan dari proses pematangan
aspek sensori-motoris tersebut.
Menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982 : 27), pada tahap
ini interaksi anak dengan lingkungannya, termasuk orang tuanya, terutama
dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya. Dalam melakukan interaksi dengan
lingkungannya, termasuk juga dengan orang tuanya, anak mengembangkan
kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan, melakukan berbagai
gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengoordinasikan
tindakan-tindakannya.
2)
Tahap praoperasional
Tahap
ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab
perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh
suasana intuitif. Artinya, semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh
pemikiran tetapi oleh unsur perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang
diperoleh dari orang-orang bermakna dan lingkungan sekitarnya.
Pada tahap ini, menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982 :
29), anak sangat bersifat egosentris sehingga seringkali mengalami masalah dalam
berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk dengan orang tuanya. Dalam
berinteraksi dengan orang lain, anak cenderung sulit untuk dapat memahami
pandangan orang lain dan lebih banyak mengutamakan pandangannya sendiri. Dalam
berinteraksi dengan lingkungannya, ia masih sulit untuk membaca kesempatan atau
kemungkinan, kemungkinan karena masih punya anggapan bahwa hanya ada satu
kebenaran atau peristiwa dalam setiap situasi.
Pada tahap ini, anak tidak selalu ditentukan oleh
pengamatan indrawi saja, tetapi juga pada intuisi. Anak mampu menyimpan
kata-kata serta menggunakannya, terutama yang berhubungan erat dengan kebutuhan
mereka. Pada masa ini anak siap untuk belajar bahasa, membaca, dan menyanyi.
Ketika kita mengggunakan bahsa yang benar untuk berbicara pada anak, akan
mempunyai akibat sangat baik pada perkembangan bahasa mereka. Cara belajar yang
memegang peran pada tahap ini adalah intuisi. Intuisi membebaskan mereka, dari
berbicara semaunya tanpa menghiraukan pengalaman konkret dan paksaan dari luar.
Sering kita lihat anak berbicara sendiri dengan benda-benda yang ada
disekitarnya, misalnya pohon, anjing, kucing, dan sebagaianya, yang menurut
mereka benda-benda tersebut dapat mendengar dan berbicara. Peristiwa semacam
ini baik untuk melatih diri anak menggunakan kekayaan bahasanya. Piaget
menyebut tahap ini sebagai Collective
monologue, pembicara yang egosentris dan sedikit hubungan dengan orang
lain.
3)
Tahap operasional
konkret
Tahap
ini berlangsung antara usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan
diri dengan realitas konkret dan sudah mulai berkembang rasa ingin tahunya.
Pada tahap ini, menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982) interaksinya dengan
lingkungannya, termasuk dengan orang tua sudah semakin berkembang dengan baik
karena egosentrisnya sudah semakin berkurang. Anak sudah dapat mengamati,
menimbang, mengevaluasi, dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dalam
cara-cara yang kurang egosentris dan lebih objektif.
Pada tahap ini juga anak sudah memahami hubungan
fungsional karena mereka sudah menguji coba suatu permasalahan. Cara berpikir
anak yang masih bersifat konkret. Di sini sering terjadi kesulitan antara orang
tua dan guru. Misalnya, orang tua ingin menolong anak mengerjakan pekerjaan
rumah, tetapi memakai cara yang berbeda dengan cara yang dipakai oleh guru
sehingga anak tidak setuju. Sementara seringkali anak lebih percaya terhadap
apa yang dikatakan oleh gurunya daripada orang tuanya. Akibatnya, kedua cara
tersebut baik yang diberikan oleh guru maupun orang tuanya sama-sama tidak dimengerti
oleh anak.
4)
Tahap operasional
formal
Tahap
ini dialami oleh anak pada usia 11 tahun ke atas. Pada masa ini, anak telah
mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari
berpikir logis. Aspek perasaan dan moralnya juga telah berkembang sehingga
dapat mendukung penyelesaian tugas-tugasnya.
Pada tahap ini, menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982),
interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas, menjangkau banyak teman
sebayanya dan bahkan jarang menimbulkan masalah dalam interaksinya dengan orang
tua. Namun, sebenarnya secara diam-diam mereka juga masih mengharapkan
perlindungan dari orang tua karena belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan
dirinya sendiri. Jadi, pada tahap ini ada semacam tarik menarik antara ingin
bebas dengan ingin dilindungi.
Karena pada ini anak sudah mulai mampu mengembangkan
pikiran formalnya, mereka juga mulai mampu mencapai logika dan rasio serta
dapat menggunakan abstraksi. Arti simbolik dan kiasan dapat mereka mengerti.
Melibatkan mereka dalam suatu kegiatan akan lebih memberikan akibat yang
positif bagi perkembangan kognitifnya. Misalnya, menulis puisi, lomba karya
ilmiah, lomba menulis cerpen, dan sejenisnya.
Perkembangan masing – masing tahap
merupakan hasil perbaikan dari perkembangan tahap sebelumnya. Hal ini bererti
bahwa setiap individu akan melewati serangkaian perubahan kualitatif yang
bersifat invarian, selalu tetap, tidak melompat atau mundur. Perubahan
perubahan kualitatif ini terjadi karena tekanan biologis untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungan serta adanya pengorganisasian struktur berfikir. Dari
sudut biologis, ada sistem yang mengatur dari dalam sehingga organisme memiliki
sistem yang pencernaan, peredaran darah, sistem pernafasan dan lain – lain. Hal
lain juga terjadi pada sistem kognisi dimana adanya sistem yang mengatur dari
dalam yang kemudian dipengaruhi oleh faktor – faktor lingkungan. Untuk memahami
stuktur kognisi yang mendasari pola – pola tingkah laku Piaget menggunakan
istilah skema dan adaptasi. Dengan kedua komponen ini berarti bahwa kognisi
merupakan sistem yang selalu diorganisir dan diadaptasi, sehingga memungkinkan
individu beradaptasi dengan lingkungannya.
Adaptasi
(struktur fungsional) merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menunjukkan pentingnya pola
hubungan individu dengan lingkungan dalam proses perkembangan koknitif. Bayi
manusia ketika dilahirkan telah dilengkapi dengan kebutuhan-kebutuhan dan juga
kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Adaptasi ini muncul
dengan sendirinya ketika bayi tersebut mengadakan interaksi dengan dunia
disekitarnya. Mereka akan belajar menyesuaikan diri dan mengatasinya, sehingga
kemampuan mentalnya akan berkembang dengan sendirinya. Adaptasi ini terdiri
dari 2 proses yang saling melengkapi, yaitu:
a. Asimilasi
Asimilasi merupakan integrasi
antara elemen-elemen eksternal (dari luar) terhadap struktur yang sudah lengkap
pada organisme. Asimilasi kognitif mencakup perubahan objek eksternal menjadi
struktur pengetahuan internal (Lerner dan Hultsch, 1983). Proses asimilasi
didasarkan atas kenyataan bahwa setiap saat manusia selalu mengasimimilasikan
informasi-informasi yang sampai kepadanya, kemudian informasi-informasi
tersebut dikelompokkan kedalam istilah-istilah yang sebelumnya sudah mereka
ketahui. Misalnya, seorang bayi yang menghisap puting susu ibunya atau dot
botol susu, akan melakukan tindakan yang sama (menghisap) terhadap objek baru
yang mereka temukan, seperti bola karet atau jempolnya. Perilaku bayi menghisap
semua objek memperlihatkan proses asimilasi. Artinya dengan gerakan menghisap
puting susu ibunya, bayi menginterpretasikan ibu jari dengan struktur kognitif
yang sudah ada yaitu puting susu ibunya.
b. Akomodsasi
Akomodasi merupakan
menciptakan langkah baru atau memberbarui atau menggabungkan istilah lama untuk
menghadapi tantangan baru. Sehingga akomodasi kognitif dapat diartikan
pengubahan struktur kognitif yang sudah dimiliki sebelumnya untuk disesuaikan
dengan objek stimulus eksternal. Jadi, kalau pada asimilasi terjadi pada
objeknya maka akomodasi perubahan terjadi pada subjeknya, sehingga ia dapat
menyesuaikan diri dengan objek yang ada diluar dirinya. Struktur kognitif yang
sudah ada dalam diri seseorang mengalami perubahan supaya sesuai dengan
rangsangan-rangsangan dari objeknya. Misalnya, bayi melakukan tindakan yang
sama dengan ibu jarinya, yaitu menghisap. Ini berarti bahwa bayi mengubah
puting susu ibunya menjadi ibu jari hal ini disebut akomodasi.
Piaget mengemukakan bahwa setiap organisme
yang ingin mengadakan penyesuaian (adaptasi) dengan lingkungan harus mencapai
keseimbangan, antara aktifitas individu terrhadap lingkungan (asimilasi) dan
aktifitas lingkungan terhadap individu (akomodasi) hal ini berarti, ketika
individu bereaksi terhadap lingkungannya, dia menggabungkan stimulus dunia luar
dengan struktur yang sudah ada, yang disebut asimilasi. Pada saat yang sama
ketika lingkungan bereaksi pada individu dan individu mengubah supaya sesuai
dengan stimulus dunia luar maka inilah yang disebut akomodasi (Lerner dan
Hultsch, 1983). Agar terjadi keseimbangan antara diri individu dengan
lingkungan, maka peristiwa-peristiwa asimilasi dan akomodasi harus terjadi
secara terpadu, bersama-sama dan komplomenter.
2. Teori
Perkembangan Vygotsky
a. Dasar
pembelajaran sosial dan budaya
Sementara Piaget memandang
anak-anak sebagai pembelajaran lewat penemuan individual, Vygotsky lebih banyak
menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam memudahkan
perkembangan si anak. Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang
relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan
perhatian. Namun, anak-anak tak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi
seperti ingatan, berpikir, dan menyelesaikan masalah. Fungsi-fungsi mental yang
lebih tinggi ini dianggap sebagai alat kebudayaan tempat individu hidup dan
alat-alat itu berasal dari budaya. Alat-alat itu diwariskan pada anak-anak oleh
anggota-anggota kebudayaan yang lebih tua selama pengalaman pembelajaran yang
dipandu. Pengalaman dengan orang lain secara beragsur-angsur menjadi semakin
mendala dan membentuk gambaran batin anak tentang dunia. Karena itulah berpikir
setiap anak dengan cara yang sama
dengan anggota lain dalam kebudayaannya.
b. Zona
perkembangan proksimal
Meskipun pada akhirnya
anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa konsep melalui pengalaman
sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang jika
berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan pernah megembagkan
pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain. Vygotsky menyebut
perbedaan antara hal-hal yang bisa dipelajari lewat interaksi dengan orang lain
sebagai zona perkembangan proksimal atau siklus perkembangan. Selain itu
Vygotsky lebih menekankan orang lainlah yang mengarahkan anak cara untuk
menggali kemampuan dirinya.
c. Peranan
bahasa
Vygotsky lebih banyak menekankan bahasa dalam
perkembangan kognitif. Bahasa anak berkembang dari interaksi sosial dengan
orang lain. Bahasa dan pemikiran berkembang sendiri-sendiri, tetapi selanjutnya
anak mendalami bahasa dan belajar menggunakannya sebagai alat untuk membantu
memecahkan masalah. Dalam tahap praoperasional, ketika anak belahar menggunakan
bahasa untuk menyelesaikan masalah, mereka berbicara lantang sembari
menyelesaikan masalah. Sebaliknya, begitu menginjak tahap operasional konkret,
percakapan batiniah ini tidak terdengar lagi.
3. Teori
Pemrosesan Informasi
Teori
pemrosesan informasi merupakan teori alternatif terhadap teori korgnitif
piaget. Berbeda dengan piaget, pemrosesan informasi tidak menggambarkan perkembangan
dalam tahap-tahap atau serangkaian sub tahap tertentu. Sebaliknya, lebih
menekankan pentingnya proses-proses kognitif, seperti persepsi, seleksi
perhatian, memori dan strategi kognitif. Teori pemrosesan ini didasarkan atas
tiga asumsi umum, pertama pikiran dipandang sebagai sistem penyimpanan dan
pengembalian informasi. Kedua, inidividu memproses informasi dari lingkungan,
dan ketiga terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari
seseorang individu (zigler dan stivenson, 1993).
Berdasarkan
pandangan diatas dapat dipahami bahwa teori pemrosesan informasi lebih
menekankan pada bagaimana individu memproses informasi tentang dunia mereka
bagaimana informasi masuk kedalam pikiran, bagaimana informasi untuk disimpan
dan disebarkan, dan bagaimana informasi diambil kembali untuk melakukan
aktifitas-aktifitas yang kompleks, seperti memecahkan masalah dan berfikir. [5]
C. Tahapan-Tahapan Perkembangan Kognitif
1. Perkembangan
Kognitif Masa Bayi
Perkembangan
kognitif pada masa bayi, anak membangun secara aktif dunia kognitifnya dengan
menerima informasi dan berperan aktif dalam menyusun pengetahuannya dengan
keadaan sebenarnya (realitas). Piaget menyakini bahwa pemikiran seorang anak
berkembang melalui tahapan – tahapan yang bersumber dari tekanan biologis untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.[6]
Dengan demikian corak pemikiran anak dari satu tahap berbeda dengan tahap
lainnya. Tahap pemikiran bayi yaitu tahap sensoris – motorik.
Tahap pemikiran
sensoris – motorik ini berlangsung dari kelahiran hingga kira – kira 2 tahun.
Selama tahap ini perkembangan mental ditandai dengan kemajuan pesat kemampuan
bayi melalui gerakan – gerakan dan tindakan – tindakan fisik. Dalam hal ini,
bayi yang baru lahir bukan saja menerima secara pasif rangsangan – rangsangan
terhadap alat – alat indranya, melainkan juga secara aktif memberikan respon
terhadap rangsangan melalui gerakan – gerakan reflek. Jadi pada permulaan tahap
sensorik – motorik bayi memiliki lebih dari sekedar refleks yang digunakan
untuk mengkoordinasikan pikiran dengan tindakan.
Tabel
subtahap perkembangan sensoris – motorik
|
Tahap
|
Usia
|
Karakteristik
|
|
Early Refleks
|
0 - 1
|
Kepercayaan atas refleks bawaan sejak lahir
untuk mengetahui lingkungan, asimilasi dari semua pengalaman refleks seperti menelan
dan menyusu.
|
|
Primari Circular Reaction
|
1 - 4
|
Akomodasi refleks untuk menyesuaikan objek
dan pengalaman baru, bayi mengulang reaksi yang bersifat sederhana seperti
membuka dan menutup mata.
|
|
Secondary Circular Reaction
|
4 - 8
|
Tindakan yang diulang sudah terfokus pada
objek, tindakan digunakan untuk mencapai tujuan, perhatian tertuju pada benda
– benda yang bergerak.
|
|
Combined Secondary Circular Reaction
|
8 - 12
|
Bayi sudah menguasai sistem respon dan
mengkombinasikan tindakan dengan tindakan yang telah diperoleh sebelumnya
untuk mendapatkan sesuatu.
|
|
Tertiary Circular Reaction
|
12 -
18
|
Anak muali aktif menggunakan reaksi yang
bersifat “trial dan error”.
|
|
The First Symbol
|
18 -
24
|
Fungsi mental bayi berubah dari tahap
sensoris – motorik murni menjadi taraf simbolis dan bayi mulai menngembangkan
kemampuan untuk menggunakan simbol.
|
2. Perkembangan
Kognitif Masa Anak – Anak Awal
Perkembangan
kognitif pada masa anak – anak awal dinamakan tahap praoperasional yang
berlangsung dari usia 2 – 7 tahun. Pada tahap ini, penalaran mental muncul,
egosentrisme muali kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan
terhadap hal yang magis. Pemikiran praoperasional adalah suatu masa tunggu yang
singkat bagi pemikiran operasional, praoperasional menekankan bahwa anak pada
tahap ini belum berfikir secara operasional.[7]
Dalam pemikiran praoperasional adalah tahap awal kemampuan untuk merekonstruksi
pada level pemikiran apa yang telah ditetapkan dalam tingkah laku. Secara garis
besar pemikiran praoperasional dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu :
a. Subtahap
Prakonseptual ( 2 – 4 tahun )
Subtahap prakonseptual
disebut juga tahap pemikiran simbolik.
Karena karakteristik utama subtahap ini ditandai munculnya sistem – sistem
lambang atau simbol. Subtahap prakonseptual merupakan subtahap praoperasional
yang terjadi kira – kira usia 2 – 4 tahun. Pada subtahap ini anak – anak
mengembangkan kemampuan menggambarkan atau membayangkan secara mental suatu
objek yang tidak ada dengan sesuatu yang lain. Misalnya, pisau yang terbuat
dari plastik merupakan sesuatu yang nyata, mewakili sesuatu yang sesungguhnya.
Kemunculan pemikiran yang simbolik pada tahap praoperasional ini dianggap
sebagai pencapaian kognitif yang paling penting. Melalui pemikiran simbolis
anak prasekolah anak dapat mengorganisir dan memproses apa yang mereka ketahui.
Anak – anak dapat dengan mudah mengimgat kembali dan membandingkan objek – objek
dan pengalaman – pengalaman yang telah diperolehnya. Simbol juga membantu anak
– anak untuk mengkomunikasikan kepada orang lain tentang apa yang mereka
ketahui.
b. Subtahap
Intutitif ( 4 – 7 tahun )
Dalam subtahap ini, meskipun
aktivitas mental tertentu seperti mengelompokkan, mengukur dan menghubungkan
obejek – objek terjadi, tetapi anak – anak belum begitu sadar mengenai prinsip
– prinsip yang mendasari terbentuknya aktivitas tersebut. Walaupun anak mulai
dapat memecahkan masalah yang berhubungan dengan aktivitas ini, namun ia tidak
bisa menjelaskan alasan yang tepat untuk memecahkan masalah menurut cara – cara
yang tepat.
Walaupun
simbol – simbol anak meningkat, namun proses penalaran dan pemikiran masih
mempunyai ciri – ciri keterbatasan tertentu. Seperti keterbatasan
mengelompokkan berbagai hal berdasarkan dimensi tertentu, misalnya anak belum
dapat mengelompokkan tongkat berdasarkan urutan dari yang terpendek hingga
terpanjamg. Karakteristik lain dari pemikiran ini adalah pemusatan perhatian
pada satu dimensi dan mengesampingkan dimensi yang lain. Perkembangan kognitif pada
tahap ini juga ditunjukkan dengan serangkaian pertanyaan yang diajukan yang
tidak jarang orang dewasa kebingungan untuk menjawabnya.
3. Perkembangan
Kognitif Anak Masa Pertengahan dan Akhir Anak – Anak
Pemikiran
anak – anak usia sekolah disebut pemikiran operasional konkret. Operasional
adalah hubungan – hubungan logis diantara konsep – konsep atau skema – skema.
Sedangkan operasional konkret adalah aktivitas mental yang difokuskan pada
objek – objek dan peristiwa – peristiwa nyata atau konkret. Pada masa ini anak
sudah mengembangkan pemikiran logisnya. [8]
Dalam
upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan
informasi yang bersumber dari pancaindera, karena ia mulai mempunyai kemampuan
untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan seseungguhnya, dan
antara yang bersifat sementara dengan yang bersifat menetap. Misalnya mereka
akan tahu bahwa air dalam gelas besar pendek dipindahkan dalam gelas yang kecil
tinggi akan tetap sama karena tidak setetespun air yang tumpah. Hal ini karena
mereka tidak lagi mengandalkan persepsi penglihatannya, melainkan sudah
menimbang dan menghitung jumlahnya.
Menurut
Piaget, anak – anak pada masa konkret operasional telah mampu menyadari
kemampuan anak untuk berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbedasecara
serempak (Johnson dan Medinnus, 1974). Hal ini karena pada masa ini anak sudah
mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi – operasi yaitu :
a. Negasi
Pada masa ini anak mulai
memahami proses apa yang terjadi diantara kegiatan yang dilakukan dan memahami
hubungan – hubungan antara keduanya. Pada deretan benda – benda anak bisa
mengembalikan atau membatalkan perubahan yang terjadi sehingga bisa menjawab bahwa
jumlah benda adalah tetap sama.
b. Resiprokasi
( Hubungan Timbal Balik )
Ketika anak melihat deretan
dari benda – benda dirubah, anak mengetahui bahwa deretan benda – benda itu
bertambah panjang tetapi tidak rapat lagi dibandingkan deretan benda – benda
yang lain. Karena anak mengetahui hubungan timbal balik antara panjang dan
kurang rapat atau sebaliknya rapat tetapi kurang panjang, maka anak tau bahwa
jumlah benda – benda pada kedua deretan itu sama.
c. Identitas
Anak pada masa konkret
operasional anak sudah bisa mengenal satu persatu benda – benda pada deretan –
deratan itu. Anak bisa menghitung, sehingga meskipun benda – benda itu
dipindahkan anak mengetahui bahwa jumlah benda itu tetap sama.
Kemampuan
anak melakukan operasi – operasi mental dan kognitif ini memungkinkannya
mengadakan hubungan yang lebih luas dengan dunianya. Operasi dalam diri anak
memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa melihat bahwa
perbuatan tersebut ditunjukkan. Jadi anak telah memiliki struktur kognitif yang
memungkinkan dapat berfikir untuk melakukan tindakan, tanpa mereka sendiri
bertindak secara nyata.
Komentar
Posting Komentar