Metode Bahasa Arab



A.    METODE BAHASA ARAB
1.      Pengertian
Metode secara umum adalah segala hal yang termuat dalam setiap proses pengajaran, baik itu pengajaran matematika, kesenian, olahraga, ilmu alam, dan lain sebagainya. Semua proses pengajaran yang baik maupun yang jelek pasti memuat berbagai usaha, memuat berbagai aturan serta didalamnya terdapat sarana dan gaya penyajian. Dan tidak mungkin sebuah proses pengajaran tanpa adanya usaha untuk menyampaikan sesuatu kepada pembelajar.
Oleh sebab itu, metode bias diberi pengertian sebagai sistematika umum bagi pemilihan, penyusunan, werta penyajian materi kebahasaan. Serta yang harus diperhatikan dalam menentukan metode, hendaknya tidak terjadi benturan antara metode dengan pendekatan yang menjadi dasarnya.
Untuk lebih jelasnya, pendekatan itu adalah sesuatu yang bersifat prinsip filosofis, sedangkan metode ini adalah sesuatu yang bersifat praktis. Atau dengan kata lain pendekatan itu sesuatu yang abstrak, sedang kongkritnya adalah tercermin dalam metode.[1]

2.      Macam-Macam Metode(Thariqah)
a.       Thariqatul al-Qawait wa al-Tarjamah (Metode tata bahasa dan Terjemah)
Metode ini merupakan metode tertua dalam pembelajaran bahasa asing sehingga disebut juga metode tradisional. Metode tata bahasa dan Terjemah ini merupakan hasil karya pemikiran sarjana Jerman (Johann Seidenstucker, Karl Plotz, H.S Ollendorff, dan Johann Meidinger) yang menurut salah seorang pengkritiknya yang lembut (yaitu W.H.D. Rouse) bertujuan “untuk mengetahui segala sesuatu mengenai sesuatu tinimbang ihwal itu sendiri”
Penekanan pada metode ini adalah pada latihan percakapan terus-menerus antara guru dan peserta didik dengan menggunakan Bahasa Arab tanpa sedikitpun menggunakan bahasa ibu, baik dalam menjelaskan makna kosa kata maupun menerjemah, (dalam hal ini dibutuhkan sebuah media). Perlu menjadi bahan revisi disini adalah bahwa dalam metode langsung, Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar dalam pengajaran dengan menekankan pada aspek penuturan yang benar (Al - Nutqu al – Shahiih), oleh karena itu dalam aplikasinya, metode ini memerlukan hal-hal berikut:
1)      Materi pengajaran pada tahap awal berupa latihan oral (syafawiyah)
2)      Materi dilanjutkan dengan latihan menuturkan kata-kata sederhana, baik kata benda ( isim) atau kata kerja ( fi’il) yang sering didengar oleh peserta didik.
3)      Materi dilanjutkan dengan latihan penuturan kalimat sederhana dengan menggunakan kalimat yang merupakan aktifitas peserta didik sehari-hari.
4)      Peserta didik diberikan kesempatan untuk berlatih dengan cara Tanya jawab dengan guru/sesamanya.
5)      Materi Qiro’ah harus disertai diskusi dengan bahasa Arab, baik dalam menjelaskan makna yang terkandung di dalam bahan bacaan ataupun jabatan setiap kata dalam kalimat.
6)      Materi gramatika diajarkan di sela-sela pengajaran,namun tidak secara mendetail.
7)      Materi menulis diajarkan dengan latihan menulis kalimat sederhana yang telah dikenal/diajarkan pada peserta didik.
8)      Selama proses pengajaran hendaknya dibantu dengan alat peraga/media yang memadai. Penutup Sebagai penutup, bahwa alur makalah ini lebih menekankan tentang pentingnya: Seorang guru (pendidik) sebaiknya memahami prinsip - prinsip dasar pengajaran bahasa Arab diatas sebagai bahasa asing dengan menggunakan metode yang memudahkan peserta didik dan tidak banyak memaksakan peserta didik ke arah kemandegan berbahasa. Adapun bagi bagi seorang siswa, bahwasanya belajar bahasa apapun, semuanya membutuhkan proses, banyak latihan dan banyak mencoba. Dengan cara memperagakan langsung hal yang diucapkan/ memegang langsung hal yang diperagakan.
Kelebihan metode ini adalah Mempercepat proses pengenalan mufrodat, Maharul kalam dapat dengan cepat dipelajari. Dan kekurangannya adalah Mengutamakan maharatul kalam sehingga maharatul yang lainnya terabaikan, Tidak menggunakan hukum nahwu sedangkan bahasa arab tidak terlepas dari hukum nahwu.
b.      Metode Syam’iyah dan Syafawiyah
Metode ini dikenal juga dengan metode ucapan (oral method). Karena dianggap sebagai usaha penyempurnaan dari metode langsung, ia biasa disebut juga reform method. Jadi, metode ini berhubungan erat dengan metode langsung.Menurut metode fonetik, pelajaran sebaiknya diawali oleh latihan-latihan pendengaran (ear training) bunyi.Setelah itu, diikuti oleh latihan-latihan pengucapan bunyi terlebih dahulu, diteruskan kemudian oleh kata, kalimat pendek, dan akhirnya kalimat yang lebih panjang.Lalu, kalimat-kalimat tersebut dirangkaikan menjadi percakapan dan cerita.Disebut metode fonetik karena materi pelajaran ditulis dalam notasi fonetik, bukan ejaan seperti yang lazim digunakan. Gramatika diajarkan secara induktif, sedangkan pelajaran mengarang terdiri dari penampilan kembali (reproduksi) tentang apa yang telah didengar dan dibaca.
a.       Secara singkat ciri-ciri penggunaan tharikah as-sam’ iyayah al-syafawiyah adalah sebagai berikut:
1)      Tujuan pokok dari metode ini adalah memberi bekal kemampuan bagi seluruh penutur arab agar mampu berkomunikasi aktif dengan penutup arab dengan berbagai keterampilan dan berbagai situasi
2)      Pada metode ini mengikuti urutan empat keterampilan bahasa yaitu dimulai dari istima’, kalam, qira’ah dan menulis.
3)      Menurut metode ini sesungguhnya sesuatu yang sangat mungkin mengungkapkan bentuk-bentuk budaya di tengah percakapan yang disajikan dalam setiap pelajaran.
b.      Berikut ini secara singkat kelebihan dan kekurangan metode Al-samiyah Al syafawiyah.
Kelebihan metode ini adalah:
1)      Memberi banyak latihan dan praktik dalam aspek keterampilan menyimak dan berbicara.
2)      Para siswa menguasai pelafalan dengan baik
3)      Para siswa terampil dalam membuat pola-pola kalimat seperti yang telah dilatihkan

                             Sedangkan kekurangannya:
1)      Sangat membutuhkan guru yang terampil dan cekatan.
2)      Ulangan seringkali membosankan serta menghambat penghipotesisan kaidah-kaidah bahasa.
3)      Kurang sekali memberi perhatian pada ujaran/tuturan spontan, karena para siswa dilatih merespon secara mekanistis sebagai respon dari stimulus.
Contoh pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan metode ini adalah sebagai berikut:
Pertama:seluruh siswa mengulangi baris-baris kalimat percakapan baru mengikuti contoh yang diberikan oleh guru untuk menjelaskan makna kalimat-kalimat tersebut.
Kedua: guru beralih ke latihan pola. Pertama secara bersama-sama siswa mengulangi kalimat yang dilatih setelah guru memberi contoh lalu siswa membuat perubahan kalimat sesuai dengan petunjuk guru.
Ketiga: serangkaian kalimat dipakai sebagai kegiatan konsolidasi akhir .para siswa bergantian mengajukan pertanyaan atau memberikan petunjuk, berdasarkan urutan dari siswa ke siswa lain dalam suatu rangkaian stimulus dan responsi.
c.       Thariqatu Al-Qira’ah (metode membaca)
Metode ini lahir dari pemikiran ahli para pengajaran bahasa asing pada abad awal 20.Teori ini dipelopori oleh beberapa pendidik Inggris dan Amerika. (West (1926), yang mengajar bahasa inggris di india, berpendapat bahwa belajar membac a secara lancar jauh lebih penting bagi orang-orang india yang belajar bahasa inggris ketimbang berbicara.
Metode membaca ini memang mendapat banyak kritik kan, baik pada metode waktu itu dianjurkan di Amerika. Begitu pula saat perang dunia II tatkala kemapuan berbicara dalam berbagai bahasa merupakan prioritas nasional di Amerika Serikat.Akan tetapi, sejak perang dunia itu terdapat pembaharuan minat dalam pengajaran bahasa-bahasa untuk tujuan-tujuan tertentu seperti membaca sastra dan pustaka ilmiah.
Ciri-ciri penting penggunaan thariqah Al-Qira’ah (metode membaca)
Dalam pembelajaran bahasa Arab adalah sebagai berikut:
a.       Metode ini dimulai dengan memberi latihan sebentar kepada siswa tentang keterampilan bertutur kemudian mendengarkan beberapa kalimat sederhana dan mengucapkan kata-kata serta kalimat hingga siswa mampu menyusun kalimat.
b.      Setelah siswa berlatih mengucapkan beberapa  kalimat kemudian mereka membacanya dalam teks.
c.       Setelah itu para siswa membaca teks dengan Qira’ah jahriyah (membaca dengan keras) yang diikuti beberapa pertanyaan seputar teks untuk menguatkan pemahaman.
d.      Membaca dibagi dua macam yaitu membaca  intensif dan lepas. Membaca intensif bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar  dan keterampilan ini membutuhkan pembendaharaan kata beserta pengetahuan kaidah-kaidah tata bahasa.
e.       Adapun Qira’ah lepas maka bisa dilaksanakan di luar kelas. Dibenarkan guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca dan membatasi apa yang harus dibaca dan mendiskusikannya.
f.       Membaca lepas memberikan andil dalam pencapaian siswa pada khazanah Arab, membaca kitab-kitab dan semi Arab. Dan dari sini akan memberikan tambahan pemahaman mengenai kebudayaan Arab.
Kelebihan metode membaca:
1.      Para siswa mempunyai kemampuan memahami teks bacaan sangat baik.
2.      Para siswa mampu menguasai mufradat dengan baik.
3.      Para siswa memahami dengan baik tentang penggunaan nahwu dan sharaf.
Adapun kekurangannya:
1.      Meskipun para siswa kuat dalam membaca, tetapi bukanmembaca nyaring, mereka lemah       dalam pelafalan.
2.      Para siswa lemah dalam keterampilan menyimak dan berbicara.
3.      Para siswa juga lemah dalam kemampuan ta’bir tahriri (menulis karangan)
          Contoh pembelajaran bahasa arab dengan menggunakan metode ini adalah sebagai berikut:
Pertama: pelajaran dimulai dengan penyajian mufradat baru yang berkaitan dengan bahan bacaan baik konteks, terjemahan atau gambar.
Kedua: setelah pembelajaran mufradat secara singkat telah tercapai maka siswa mulai mempelajari bacaan yanag ada dalam buku pelajaran.
Ketiga: memperkenalkan bacaan-bacaan tambahan dalam bentuk cerita pendek atau panjang yang disederhanakan.
d.      Metode Gabungan (Electik)
Menurut metode ini, cara mengajar yang paling tepat adalah menggunakan gabungan dari unsur-unsur yang terdapat dalam metode langsung dan gramatika-terjemah. Kemahiran berbahasa diajarkan menurut urutan-urutan: percakapan, latihan menulis, memahami (comprehension), dan membaca (reading). Kegiatgan lain yang dilakukan dalam kelas adalah berupa latihan lisan, membaca keras, dan tanya jawab. Selain latihan penerjemahan dan pelajaran tata-bahasa yang dedukatif, juga digunakan alat peraga yang bisa didengar dan dilihat (audio-visual aids).
a)      Kelebihan
1)      Kelebihannya yaitu gabungan dari 2 metode sehingga saling menutupi kekurangan.
2)      Mahir dalam mendengar beserta kawa’id dan terjemahannya.
b)      Kekurangan
1)      Kurang dalam hal kemahiran yang lain.

e.       Metode Induktif (Istiqra’iyah)
Metode ini adalah metode pengajaran yang bersifat dari khusus ke umum. Dengan kata lain metode ini beraliran induktif.
1.      Langkah-langkah
a)      Memberikan bahan yang akan dipelajari
b)      Menjelaskan contoh tersebut pada kedudukannya dalam I’rab.

f.       Metode Deduktif (Qiyasiyah)
Metode ini adalah metode pengajaran yang bersifat dari umum ke khusus (Deduktif).Metode ini mengajarkan dari hal yang besar kepada hal yang kecil.

1)      Langkah-langkah
a)      Memberikan bahan yang akan dipelajari.
b)      memberikan contoh yang umum kemudian menjelaskan secara detail tentang contoh yang diberikan.

g.      Metode Membaca (Qiro’ah)
Sesuai dengan namanya, metode ini diperuntukan bagi sekolah-sekolah yang bertujuan mengajarkan kemahiran membaca dalam bahasa asing.Materi pelajaran terdiri dari bacaan yang dibagi-bagi menjadi beberapa seksi pendek.Setiap seksi atau bagian diawali atau didahului oleh daftar kata-kata yang maknanya diajarkan secara konstektual.Maksudnya, kata-kata dan kalimat yang diucapkan dan diajarkan selalu dikaitkan dengan terjemahan atau gambar-gambar.Setelah, sampai tahap para pelajar menguasai kosa kata, bacaan tambahan dalam bentuk cerita atau novel mulai diajarkan.Pembacan cerita atau novel diharapkan dapat meningkatkan penguasaan pelajar terhadap kosakata sehingga mereka menjadi lebih mantap.
1)      Langkah-langkah
a)      Memberikan daftar kosa kata pendek
b)      Setelah pelajar menguasai kosa kata, cerita atau novel diajarkan
2)      Kelebihan dan Kekurangan
a)      Kelebihan
(1)   Mahir dalam hal membaca
(2)   Penguasaan kosa kata yang memadai
b)      Kekurangan
(1)   Kurang dalam maharatul yang lainnya.

h.      Metode MIM-MEM (Meniru-Menghapal)
Mim-mem merupakan singkatan dari mimicray (meniru) dan memorizattion (menghapal) atau proses pengingatan sesuatu dengan menggunakan kekuatan memori. Metode ini juga sering disebut informant-drill method.Disebut demikian karena latihan-latihannya dilakukan oleh selain seorang pengajar, juga oleh seorang informan penutur asli (native informant).Menurut metode ini, kegiatan belajar berupa demontrasi dan latihan (drill) gramatika dan struktur kalimat, teknik pengucapan, dan penggunaan kosakata dengan mengikuti atau menirukan guru dan informan penutur asli. Ketika melakukan drilling, native informant bertindak sebagai seorang drill master. Ia mengucapkan beberapa kalimat sampai akhirnya menjadi hapal. Gramatika diajarkan secara tidak langsung melalui model-model kalimat.
Mim-mem method (metode meniru atau mimic dan menghafal atau memorize) adalah, metode belajar reproduktif yang sangat mudah dan oleh karenanya sangat efektif bagi warga belajar yang tidak dikaruniai cukup peluang untuk menalar. Reproduksinya adalah mengulang (standar) apa yang telah diajarkan sehingga -jarang sekali- hasil belajarnya bisa melampaui standar yang dicontohkan oleh gurunya.
Namun demikian, metode itu tergolong primitif dan karenanya hanya sesuai (kompatibel) untuk mentalitas kaum primitif juga. Sayangnya proses penghafalan 'ayat-ayat suci' ini sangat marak di kalangan kaum muslim (sama juga dengan kaum Parisi di masa-masa dulu) yang tidak ingin paham dengan hal-hal yang dihafalnya secara turun-temurun itu. Mereka hanya hafal kata-kata 'jangan membunuh' tetapi tidak mengerti mengapa mereka tidak boleh membunuh.
Konon 'unexamined life is a useless life' (hidup yang tidak diuji dan dicermati adalah kehidupan yang sia-sia). Jadi mereka yang sudah katam baca Al qur'an dan hafal setiap ayatnya tapi tidak faham tentang implikasi dari ayat-ayat itu adalah manusia-manusia yang menyia-nyiakan waktu hidupnya dan oleh karenanya bangsa yang merugi.
Metode meniru dan menghapal mengajar bahasa arab dengan menggunakan metode ini membutuhkan penutur asli, karena belajar bahasa menurut metode ini dilandasi oleh pembiasaan dan latihan(drill) baik untuk mempelajari gramatika, menyusun kalimat, berbicara dengan benar, atau menggunakan kosakata. Untuk melatih peserta didik menggunakan kosakata, mereka harus meniru guru dan penutur asli, dan menghafal kalimat-kalimat yang mereka tiru.
Jika dilihat dari kata perkata maka metode ini memiliki dua sub metode yaitu metode mim(mimic/meniru) dan metode mem(memory/menghapal). Tetapi metode ini digabungkan menjadi satu dan menjadi satu kesatuan yang saling membutuhkan.
1)      Langkah-Langkah Metode Mim-Mem
Dari beberapa pengertian di atas, metode ini tidak memiliki langkah-langkah yang spesifik. Akan tetapi dari pengertian di atas jika kita perhatikan secara seksama akan terdapat langkah-langkah sebagai berikut:
a)      Memberikan bahan yang akan dipelajari
b)      Menjelaskan materi
c)      Mengucapkan beberapa kalimat sampai anak didik menjadi.
d)     Murid menghapal apa yang ditirunya
2)      Kelebihan dan Kekurangan Metode Mim-Mem
a)      Kelebihan
Metode belajar reproduktif yang sangat mudah dan oleh karenanya sangat efektif bagi warga belajar yang tidak dikaruniai cukup peluang untuk menalar.
b)      Kekurangan
Reproduksinya adalah mengulang (standar) apa yang telah diajarkan, sehingga -jarang sekali- hasil belajarnya bisa melampaui standar yang dicontohkan oleh gurunya.
Metode ini membutuhkan penutur asli sehingga jika tidak ada penutur asli maka metode ini tidak akan berjalan seperti yang diharapkan.
Metode itu tergolong primitif dan karenanya hanya sesuai (kompatibel) untuk mentalitas kaum primitif juga.
Dalam metode ini guru/penutur asli lebih aktif, sehingga murid akan menjadi pasif dan hanya meniru dan menghapal apa yang ditirunya serta menerima saja, tidak ada inovasi anak dalam belajar.

i.        MetodePola-Pola Kalimat
Pengertianpola kalimat adalah kedudukan kata-kata dalam hubungan fungsi kata dalam satu kalimat .pola kalimat dilihat dari segi bentuknya, ada pola dasar, pola lengkap, pola sempurna dan pola tidak sempurna. Dalam metode ini, dengan melalui pola kalimatlah metode ini di jalankan.
1)      Langkah-langkah
a)      Memberikan contoh kalimaat yang berpola.
b)      Menjelaskan contoh tersebut
c)      Dengan penjelasan contoh tersebut secara tidak disadari anak mendengar, melihat, dan memperhatikan.
2)      Kelebihan dan Kekurangan
a)      Kelebihan
(1)   Anak didik tidak dibebani untuk mendengar, melihat, dan menganalisa dengan sendirinya.
(2)   Memahami pola-pola dalam bahasa asing.
b)      Kekurangan
(1)   Memakan waktu yang cukup lama.
(2)   Terfokus pada pola-pola kalimat saja, sehingga yang lainnya terabaikan.

j.        Metode Action Function (Aksi-Fungsi)
Aksi (action) adalah tanggapan, perilaku atau perbuatan yang diberikan anak perintah yang dibuat oleh guru, yang mana ungkapan kata-kata yang menimbulkan aksi anak tersebut sudah diajarkan kepada mereka sebelumnya.Fungsi (Function) adalah perbuatan yang dilakukan oleh anak setelah mengamati gerakan yang diperagakan oleh gurunya.
Contohnya: “ seorang guru menunjuk(dengan jari) seorang anak dan berkata kum(berdiri) maka si anak berdiri” metode ini secara tidak langsung menyampaikan kepada anak didik bahwa kum artinya “berdiri”. Metode ini menggunakan media tangan untuk menjalankan metode ini.
1)      Kelebihan dan Kekurangan
a.       Kelebihan
1.      Mempersingkat waktu pengajaran
2.      Pemahaman yang lebih cepat oleh siswa.
b.      Kekurangan
1.      Hanya menguasai kosa kata akan tetapi dalam hal yang lainnya kurang dikuasai.

k.      Metode kawa’id (Gramatika) dan terjemah
Dengan demikian dapat disebutkan bahwa metode ini mempunyai beberapa karakteristik antara lain.
a)      Mempelajari bahasa asing bertujuan agar seseorang mampu membaca buku atau naskah dalam bahasa target, seperti kitab-kitab klasik berbahasa Arab.
b)      Materi pelajaran terdiri atas buku tata bahasa, kamus dan teks bacaan yang berupa karya sastra klasik atau kitab keagamaan klasik.
c)      Tata bahasa disajikan secara deduktif, yakni dimulai dengan penyajian kaidah diikuti dengan contoh-contoh.
d)     Kosa kata diajarkan dalam bentuk kamus dwibahasa, atau daftar kosa kata beserta terjemahannya.
e)      Proses pembelajarannya sangat menekankan penghafalan kaidah
f)       bahasa dan kosa kata, kemudian penerjemahan harfiah dari bahasa sasaran ke bahasa siswa atau sebaliknya.
g)      Bahasa ibu digunakan sebagai bahasa pengantar.
h)      Peran guru sangat aktif sebagai penyaji materi, sementara siswa berperan pasif sebagai penerima materi.
1)      Kelebihan dan Kekurangan
a)      Kelebihan:
(1)   Siswa menguasai dalam arti menghafal di luar kepala kaidah tata bahasa dari bahasa yang dipelajarinya.
(2)   Siswa memahami bahan bacaan yang dipelajarinya secara mendetail dan mampu menerjemahkannya.
(3)   Siswa memahami karakteristik bahasa sasaran secara teoretis dan dapat membandingkannya dengan karakteristik bahasanya sendiri.
(4)   Metode ini memperkuat kemampuan siswa dalam mengingat dan menghafal.
(5)   Metode ini bisa diterapkan dalam kelas besar dan tidak menuntut kemampuan guru yang ideal.
b)      Kelemahan:
(1)   Metode ini lebih banyak mengajarkan tentang bahasa bukan mengajarkan kemahiran berbahasa.
(2)   Metode ini hanya menekankan kemahiran membaca, sedangkan tiga kemahiran bahasa yang lain diabaikan.
(3)   Terjemahan harfiah sering mengacaukan makna kalimat dalam konteks yang luas, dan hasil terjemahannya tidak lazim dalam citarasa bahasa ibu.
(4)   Siswa hanya mengenal satu ragam bahasa sasaran, yaitu ragam bahasa tulis klasik, sedangkan ragam bahasa tulis modern dan bahasa percakapan tidak diketahui.
(5)   Kosa kata, struktur dan ungkapan yang dipelajari siswa mungkin sudah tidak terpakai lagi atau dipakai dalam arti yang berbeda dalam bahasa modern.
(6)   Disebabkan otak siswa dipenuhi dengan qawa'id, maka tidak tersisa lagi tempat untuk ekspresi dan kreasi bahasa. (Pokja, 2006 : 100-2).


[1] Hamid,H.M Abdul, dkk, Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang, UIN-Malang PRESS, 2008), hal.3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

biodata anak smash

Abjad Aksara Lampung

introduction and descriptive text