PembelajaranTerpadu
A. Pengertian
pendekatan terpadu
Pendekatan
Integratif atau terpadu adalah rancangan kebijaksanaan pengajaran bahasa dengan
menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu, yaitu dengan menyatukan,
menghubungkan, atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak ada yang berdiri
sendiri atau terpisah-pisah. Pendekatan terpadu terdiri dari dua macam :
1. Integratif
Internal yaitu keterkaitan yang terjadi antar bahan pelajaran itu sendiri,
misalnya pada waktu pelajaran bahasa dengan fokus menulis kita bisa mengaitkan
dengan membaca dan mendengarkan juga.
2. Integratif
Eksternal yaitu keterkaitan antara bidang studi yang satu dengan bidang studi
yang lain, misalnya bidang studi bahasa dengan sains dengan tema lingkungan
maka kita bisa meminta siswa membuat karangan atau puisi tentang banjir untuk
pelajaran bahasanya untuk pelajaran sainsnya kita bisa menghubungkan dengan
reboisasi atau bisa juga pencemaran sungai.
Pembelajaran terpadu merupakan suatu
aplikasi salah satu startegi pembelajaran berdasarkan pendekatan kurikulum
terpadu yang bertujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran
secara relevan dan bermakna bagi anak (Atkinson, 1989:9dalam Ahmad).
Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pembelajaran terpadu didasarkan pada
pendekatan inquiry, yaitu melibatkan siswa mulai dari merencanakan,
mengeksplorasi, dan brain storming dari siswa. Dengan pendekatan terpadu siswa
didorong untuk berani bekerja secara kelompok dan belajar dari hasil
pengalamannya sendiri.
Collins dan Dixon (1991:6 dalam Ahmad)
menyatakan tentang pembelajaran terpadu sebagai berikut :
integrated learning
occurs when an authentic event or exploration of a topic in the driving force
in the curriculum.
Selanjutnya
dijelaskan bahwa dalam pelaksanaannya anak dapat diajak berpartisipasi aktif
dalam mengeksplorasi topik atau kejadian, siswa belajar proses dan isi (materi)
lebih dari satu bidang studi pada waktu yang sama. Pembelajaran terpadu sangat
memperhatikan kebutuhan anak sesuai dengan perkembangannya yang holistik dengan
melibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran baik fisik maupun
emosionalnya. Untuk itu aktivitas yang diberikan meliputi aktif mencari,
menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan yang holistik, bermakna,
dan otentik sehingga siswa dapat menerapkan perolehan belajar untuk memecahkan
masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran terpadu
juga menekankan integrasi berbagai aktivitas untuk mengeksplorasi objek, topik,
atau tema yang merupakan kejadian-kejadian, fakta, dan peristiwa yang otentik.
Adapun beberapa pengertian dari
pendekatan terpadu yang dikemukakan oleh beberapa orang pakar pendekatan
pembelajaran terpadu diantaranya :
1. Menurut Cohen dan Manion
(1992) dan Brand (1991), terdapat tiga kemungkinan variasi pendekatan
pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam
suasana pendidikan progresif yaitu:
a. Kurikulum terpadu (integrated curriculum)
adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran melalui suatu
tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas
antara berbagai bidang studi tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada.
b.
Hari
terpadu (integrated day) berupa perancangan kegiatan siswa dari sesuatu kelas
pada hari tertentu untuk mempelajari atau mengerjakan berbagai kegiatan sesuai
dengan minat mereka.
c.
Pendekatan
Pembelajaran terpadu (integrated learning) menunjuk pada kegiatan belajar yang
terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu
atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (center core / center of
interest).
2. Menurut Prabowo (2000 :
2), pendekatan pembelajaran terpadu adalah suatu proses pendekatan dengan
melibatkan / mengkaitkan berbagai bidang studi. Ia juga mengatakan
bahwa pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa ciri yaitu :
a.
Berpusat pada siswa
(student centered)
b.
Proses pembelajaran mengutamakan pemberian
pengalaman langsung
c.
Pemisahan antar bidang studi tidak terlihat
jelas.
Jadi, sesuai
dengan pengertian-pengertian di atas, bahwa dengan adanya pemaduan itu siswa
akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran
menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini memberikan arti bahwa pada
pembelajaran terpadu siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka
pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antarkonsep
dalam intramata pelajaran maupun antarmata pelajaran.
Pembelajaran
terpadu tampak lebih menekankan keterlibatan siswa dalam belajar, sehingga
siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan.
Setiap siswa memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup di
masyarakat dan bakal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar di
sekolah. Oleh karena itu pengalaman belajar di sekolah sedapat mungkin
memberikan bekal siswa dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini
disebut kecakapan hidup yang cakupannya lebih luas dibanding hanya sekedar
keterampilan.
B. Karakteristik
Pembelajaran Terpadu
Sebagai
suatu proses, pembelajaran terpadu memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Pembalajaran
terpusat pada anak
Pembalajaran
terpadu dikatakan sebagai pembelajaran yang berpusat pada anak, karena pada
dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang
memberikan keleluasaan pada siswa, baik secara individu maupun secara kelompok.
Siswa dapat aktif mencari, menggali, dan manemukan konsep serta prinsip-prinsip
dari suatu pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan perkembangannya.[1]
2. Menekankan
pembentukan pemahaman dan kebermaknaan
Pembelajaran
terpadu mengkaji suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang membentuk
semacam jalinan antarskemata yang dimiliki oleh siswa, sehingga akan berdampak
pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari siswa. Hasil yang nyata didapat
dari segala konsep yang diperoleh dan keterkaitannya dengan konsep-konsep lain
yang dipelajari dan mengakibatkan kegiatan belajar menjadi lebih bermakna.hal
ini diharapkan dapat berakibat pada kemampuan siswa untuk dapat menerapakan
perolahan belajaranya pada pemecahan masalah-masalah yang nyata dalam
kehidupannya.
3. Belajar
melalui proses pengalaman langsung
Pada
pembelajaran terpadu diprogramkan untuk melibatkan siswa secara langsung pada
konsep dan prisip yang dipelajari dan memungkinkan siswa belajar dengan
melakukan kegiatan secara langsung. Sehingga siswa akan memahami hasil
belajarnya secara langsung dan kemudian siswa akan memahami hasil belajarnya
sesuai dengan fakta dan peristiwa yang mereka alami, bukan sekedar informasi
dari gurunya. Guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator yang membimbing
kearah tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan siswa sebagai aktor pencari fakta
dan informasi untuk mengembangkan pengetahuannya.
4. Lebih
memperhatikan proses daripada hasil semata
Pada
pembelajaran terpadu dikembangkan pendekatan discovery inquiry (penemuan
terbimbing) yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran yaitu
mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai proses evaluasi. Pembelajaran
terpadu dilaksanakan dengan melihat keinginan, minat, dan kemampua siswa
sehingga memungkinkan siswa termotivasi untuk belajar terus-menerus.
5. Sarat
dengan muatan keterkaitan
Pembelajaran
terpadu memusatkan perhatian pada pengamatan dan pengkajian suatu gejala atau
peristiwa dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang
terkotak-kotak. Sehingga memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena
pembelajaran dari segala sisi, yang pada gilirannya nanti akan membuat siswa
lebih arif dan bijak dalam menyikapi atau menghadapi kejadian yang ada.
C. Prinsip-prinsip
Pembelajaran Terpadu
Berikut
ini dikemukakan pula prinsip-prinsip dalam pembelajaran terpadu yaitu meliputi
:
1. Prinsip
penggalian tema antara lain :
a. Tema
hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan memadukan
banyak bidang studi,
b. Tema
harus bermakna artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan
bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya
c. Tema
harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak.
d. Tema
yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak,
e. Tema
yang dipilih hendaknya mempertimbangkan penstiwa-peristiwa otentik yang terjadi
dalam rentang waktu belajar,
f. Tema
yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku, serta harapan
dari masyarakat,
g. Tema
yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.
2. Prinsip
pelaksanaan terpadu di antaranya :
a. Guru
hendaknya jangan menjadi “single actor “ yang mendominasi pembicaraan dalam
proses belajar mengajar,
b. Pemberian
tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang
menuntut adanya kerjasarna kelompok,
c. Guru
perlu akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan
dalam poses perencanaan.
3. Prinsip
evaluatif adalah :
a. Memberi
kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di samping bentuk
evaluasi lainnya,
b. Guru
perlu mengajak siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai
berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang telah disepakati dalam
kontrak.
4. Prinsip
reaksi
Dampak
pengiring (nuturan efek) yang penting bagi perilaku secara sadar belum
tersentuh oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Karena itu, guru dituntut
agar mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara
tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap reaksi siswa
dalam semua “event “ yang tidak diarahkan ke aspek yang sempit tetapi ke suatu
kesatuan utuh dan bermakna.
D. Macam-macam
strategi pendekatan terpadu
1. Membaca Bersuara (Reading Aloud)
Membaca
bersuara adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya Guru
dapat menggunakan bacaan yang terdapat dalam buku teks atau buku ceritanya
lainnya dan membacakannya dengan suara keras dan intonasi yang baik sehingga
setiap siswa dapat mendengarkan dan menikmati ceritanya. Manfaat yang didapat
dari membaca bersuara antara lain: meningkatkan keterampilan menyimak, memperkaya
kosa kata, membantu meningkatkan membaca pemahaman, dan yang tidak kalah
penting adalah menumbuhkan minat baca pada siswa.[2]
2. Membaca dalam hati (sustained silent reading)
Pada
membaca dalam hati (Sustained Silent Reading) ini, siswa diberikan kesempatan untuk memilih
sendiri buku atau materi yang akan dibacanya. Pesan yang ingin disampaikan
kepada siswa melalui kegiatan ini adalah: membaca adalah kegiatan yang
menyenangkan; membaca dapat dilakukan oleh siapa pun; dan membanca berarti kita
berkomunikasi dengan pengarang buku tersebut.
3.
Membaca bersama (shared reading)
Kegiatan
membaca bersama antara guru dan siswa, di mana setiap orang mempunyai buku yang
sedang dibacanya. Kegiatan ini dapat
dilakukan, baik di kelas rendah maupun di kelas tinggi. Ada beberapa cara
melakukan kegiatan ini, yakni:
a.
guru membaca dan siswa
mengikutinya (untuk kelas rendah),
b.
guru membaca dan siswa
menyimak sambil melihat bacaan yang tertera dalam buku, dan
c.
siswa membaca
bergiliran.
4. Membaca
terbimbing (Giuded reading)
Dalam
membaca terbimbing semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama. Guru
mengajukan pertanyaan yang meminta siswa menjawab dengan kritis, bukan sekadar
pertanyaan pemahaman. Kegiatan ini merupakan kegiatan membaca yang penting
dilakukan di kelas.
5. Membaca
bebas (Independent reading)
Dalam
membaca bebas, siswa berkesempatan untuk menemukan sendiri materi yang ingin
dibacanya. Membaca bebas merupakan bagian integral dari whole language. Dalam
membaca bebas, siswa bertanggung jawab terhadap bacaan yang dipilihnya sehingga
peran guru pun berubah dari seorang pemrakarsa, model, dan pemberi tuntunan
menjadi seorang pengamat, fasilitator, dan pemberi respon.
6. Menulis
jurnal (Journal writing)
Menulis
jurnal adalah strategi yang dapat dengan mudah diterapkan. Jurnal merupakan
sarana yang aman bagi siswa untuk mengungkapkan perasaannya, menceritakan
kejadian di sekitarnya, membeberkan hasil belajarnya, dan menggunakan bahasa
dalam bentuk tulisan.
7. Menulis
terbimbing (Giuded writing)
Dalam
menulis terbimbing peran adalah sebagai fasilitator, membantu siswa menemukan
apa yang ingin ditulisnya dan bagaimana menulisnya dengan jelas, sistematis,
dan menarik. Guru bertindak sebagai pendorong bukan pengatur, sebagai pemberi
saran bukan memberi petunjuk. Dalam kegiatan ini proses menulis, seperti
memilih topik, membuat draf, memperbaiki, dan mengedit dilakukan sendiri oleh
siswa.
8. Menulis
bebas (Independent writing)
Menulis
bebas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, meningkatkan kebiasaan
menulis, dan meningkatkan kemampuan kritis dalam menulis bebas. Siswa mempunyai
kesempatan untuk menulis tanpa ada intervensi dari guru. Siswa bertanggung
jawab sepenuhnya dalam proses menulis. Jenis menulis yang termasuk menulis
bebas, antara lain menulis jurnal, menulis respon.
E. Kelebihan
dan kekurangan pendekatan terpadu
1. Kelebihan
pendekatan terpadu
a.
Materi pelajaran
menjadi dekat dengan kehidupan anak sehingga anak dengan mudah memahami
sekaligus melakukannya.
b.
Siswa juga dengan mudah
dapat mengaitkan hubungan materi pelajaran di mata pelajaran yang satu dengan
mata pelajaran lainnya.
c.
Dengan bekerja dalam
kelompok, siswa juga dapat mengembangkan kemampuan belajarnya dalam aspek
afektif dan psikomotorik, selain aspek kognitif.
d.
Pembelajaran terpadu
mengakomodir jenis kecerdasan siswa.
e.
Dengan pendekatan
pembelajaran terpadu guru dapat dengan mudah menggunakan belajar siswa aktif
sebagai metode pembelajaran.
2. Kekurangan
pendekatan terpadu
a.
Aspek Guru: Guru harus
berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang
handal, rasa percaya diri yang tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan
materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu
pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca
buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang kajian tertentu
saja. Tanpa kondisi ini, maka pembelajaran terpadu akan sulit terwujud.
b.
Aspek peserta didik:
Pembelajaran terpadu menuntut kemampuan belajar peserta didik yang relatif
“baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi
karena model pembelajaran terpadu menekankan pada kemampuan analitik
(mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan), kemampuan eksploratif
dan elaboratif (menggali dan menemukan). Bila kondisi ini tidak dimiliki, maka
penerapan model pembelajaran terpadu ini sangat sulit dilaksanakan.
c.
Aspek sarana dan sumber
pembelajaran: Pembelajaran terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber
informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet.
Semua ini akan menunjang, memperkaya, dan mempermudah pengembangan wawasan.
Bila sarana ini tidak dipenuhi, maka penerapan pembelajaran terpadu juga akan
terhambat.
d.
Aspek kurikulum:
Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman
peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu
diberi kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan
pembelajaran peserta didik.
e.
Aspek penilaian:
Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif),
yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa bidang kajian
terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini, guru selain dituntut untuk
menyediakan teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang
komprehensif, juga dituntut untuk berkoordinasi dengan guru lain, bila materi
pelajaran berasal dari guru yang berbeda.
f.
Suasana pembelajaran:
Pembelajaran terpadu berkecenderungan mengutamakan salah satu bidang kajian dan
‘tenggelam’nya bidang kajian lain. Dengan kata lain, pada saat mengajarkan
sebuah TEMA, maka guru berkecenderungan menekankan atau mengutamakan substansi
gabungan tersebut sesuai dengan pemahaman, selera, dan latar belakang
pendidikan guru itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar