filsafat umum
FILSAFAT
UMUM
FILSAFAT
ALAM SEBAGAI SIKAP DEMITOLOGI
Makalah
ini disusun guna memenuhi tugas:
Filsafat
Umum: filsafat alam sebagai sikap demitologi
Dosen
pengampu:
Wahyudin,
S.Ag.MA.M.Phil
Disusun
oleh:
1.
Annisa Septiani
2.
Budi Riyanto
3.
Firtia Lukluk Rohimatunnisa

SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
JURAI
SIWO METRO
2012
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Filsafat
Secara etimologis kata filsafat dari kata Yunani
filosofia, yang berasal dari kata kerja filosofein yang berarti mencintai
kebijaksanaan. Kata filsafat juga berasal dari kata Yunani philosophis yang
berasal dari kata kerja phielen yang berarti mencintai atau philia yang berarti
cinta, dan Sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata
Inggris philosophy yang biasa diterjemahkan “cinta kearifan”. Selain itu
filsafat dapat diartikan sebagai pola berpikir yang sangat mendalam sampai
hakikat atau berpikir secara global atau berpikir yang dilihat dari berbagai
sudut pandang ilmu pengetahuan.
Filsafat memiliki objek materi dan objek forma.
Dalam objek materi filsafat yaitu segala sesuatu yang ada, yang berarti ada
dalam kenyataan, ada dalam pikiran, dan kemungkinan. Dan secara objek forma
filsafat adalah menyeluruh secara umum, yang berarti filsafat dalam
memandangnya dapat mencapai hakikat yang mendalam atau tidak ada satu pun yang
berada di luar jangkauan filsafat, dan hal ini juga dianggap benar selama tidak
merugikan kedudukan filsafat sebagai ilmu.
2.
Filsafat
Alam Sebagai Sikap Demitologi
Dalam pemikiran metodologi filsafat memiliki pemikiran
tentang tuhan, manusia, dan alam. Pemikiran sebagai tuhan dalam metodologi
tuhan dianggap sebagai masalah pokok dalam setiap agama dan filsafat. Selain
itu tuhan juga merupakan ide manusia, maka dalam hal ini ide tentang tuhan
suatu hasil pemikiran manusia yang terbatas, sehingga dari segi ini tuhan lebih
rendah derajatnya dari manusia.
Menurut pemikiran manusia ilmu pengetahuan bermula
dari rasa ingin tahu. Perasaan ini merupakan salah satu cirri khas manusia.
Rasa ingin tahu berkembang, baik tentang dirinya sendiri maupun benda-benda di
sekelilingnya dan rasa yang seperti itu tidak dimiliki oleh makhluk hidup
lainnya.
Bedasarkan pemikiran alam, hokum alam juga membatasi
manusia untuk bebas bertindak, seperti dia tidak dapat tinggal dalam air seperti
ikan dan tidak mampu menolak kematian. Artinya manusia kendati bebas memilih,
tetapi pilihan itu tidak mutlak dikerjakan. Manusia memang dibatasi dengan
hokum alam, ruang, dan waktu. Namun, dalam bidang metafisika, terutama agama
manusia lebih bebas sebab yang membatasinya tidak ada dalam bentuk materi.
Filsafat alam merupakan bentuk lahirnya sebuah
pemikiran manusia dalam memahami sesuatu melalui akalnya. Pada abad ke-6 SM,
perkembangan terjadi disejumlah tempat terpisah di seluruh dunia. Di berbagai
wilayah, seperti Timur Mediterania, Cina, India, Yunani, para pemikir kreatif
mulai memahami fenomena alam dengan akalnya. Mereka menentang nitologi,
kepercayaan, religi masyarakatnya yang masih berpikir abstrak. Mereka adalah
filosof yang mencari kebenaran dan jawaban-jawaban logika.
Mereka adalah orang-orang yang pintar, orang bijak
yang percaya akan kecerdasannya sendiri, bersikap kritis terhadap opini
popular, dan persuasive terhadap para pengikutnya. Mereka menolak mitos bahwa
kehidupan ini lahir dari hasilpersetubuhan langit dan bumi. Bahwa venus muncul
dari lautan zeus.
Mereka menolak dengan tegas konsep tentang hakikat
sesuatu yang berhubungan dengan dewi-dewi, dengan memahami sesuatu sehingga
membuat pertanyaan terjawab dengan jawaban kehendak dewa menurut penyair
Hesoid, yang pertama adalah Chaos, bukan dalam arti kekacauan yang sempurna,
melainkan dalam sebuah ketiadaan bentuk Hesoid ingin menerangkan jurang antara
langit dan bumi.
Dalam kosmologi yunani kuno dunia dibayangkan sebuah
cakram bundar yang datar, ditangkupi sbuah cawan yang kita lihat sebagai
langit. Di bawahnya dunia dihinggapi oleh sesuatu yang mirip batang pohon.
Dunia berakar dalam hades, dunia bawah, alam yang paling gelap.
Nalar mulai mencermati alam. Dia berpikir bahwa alam
semesta ini bisa dipahami oleh alam bukan mitos dan takhayul. Dia membuat teori
bahwa asal usul ala mini adalah terbuat dari air. Dia berpendapat bahwa
sebagian besar bumi ini adalah air.
Orang Yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai
system kepercayaan, bahwa segala sesuatu harus diterima sebagai suatu kebenaran
yang bersumber pada mitos. Artinya suatu kebenaran lewat akal piker (logos)
tidak berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber pada mitos.
Setelah abad ke-6 SM muncul sejumlah ahli piker yang
menentang adanya mitos. Mereka menginginkan pertanyaan tentang misteri alam
semesta ini yang jawabannya dapat diterima akal (rasional). Keadaan yang
demikian ini disebut sebagai suatu demitologi. Upaya para ahli piker untuk
mengarahkan kepada suatu kebebasan berpikir ini kemudian banyak orang yang
mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi kekuatan akal pikir secara murni.
Maka timbullah peristiwa ajaib “The Greek Miracle” yang nantinya dapat
dijadikan sebagai landasan peradaban dunia.
Gerakan demitologi yang dilakukan oleh Socrates,
Plato, dan Aristoteles telah menjadikan filsafat mampu mencapai perkembangan
yang mencenangkan. Sejak itu filsafat yang bercorak motologis berkembang
menjadi ilmu pengetahuan yang praktis dan mulai menjarak dengan aspek-aspek
mistik. Indikatornya terlihat dari pernyataan Aristoteles bahwa filsafat adalah
aktivitas pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan, ilmu harus bebas dari
ikatan keyakinan dan bebas dari doktrin dan pemahaman yang kaku. Keberanian
Aristoteles dalam dunia pemikiran empiris dan rasional ini, telah dipuja para
ilmuan barat modern sebagai pemikirna yang sulit ditemukan kesalahannya. Ilmuan
modern merasa kesulitan untuk meyakini behawa pemikiran Aristoteles mengandung
kelemahan dan kesalahan, meskipun Aristoteles sendiri tidak pernah mengklaim
pemikiran dirinya sebagai sebuah teori yang selalu benar.
KESIMPULAN
Filsafat alam merupakan bentuk lahirnya sebuah
pemikiran manusia dalam memahami sesuatu melalui akalnya. Dalam hal ini orang
pintar pada masa ini percaya akan kecerdasannya sendiri, bersikap kritis
terhadap opini popular, dan persuasive terhdap para pengikutnya. Mereka menolak
mitos bahwa kehidupan ini lahir dari hasil persetubuhan langit dan bumi.
Setelah abad ke-6 SM sejumlah ahli pikir menentang
adanya mitos, mereka menginginkan pernyataan tentang misteri alam semesta ini
yang jawabannya dapat diterima oleh akal.
DAFTAR
PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar